Zein memposisikan diri di belakang Jasmine yang tengah menungging, matanya terpaku pada pemandangan dua lubang yang merekah begitu indah di hadapannya. Ia terdiam sejenak, lalu menggenggam pinggul Jasmine dengan penuh penguasaan, namun sentuhannya tetap lembut, seolah memegang harta paling berharga.“Tahan ya, Sayang…” bisiknya dengan suara rendah dan serak.Dengan penuh hasrat namun tetap lembut, Zein membantu memposisikan Jasmine dengan nyaman di atas kasur.Tanpa menunggu lebih lama, ia segera memasukkan miliknya yang menegang sempurna ke dalam milik Jasmine yang terasa basah dan sempit. Gerakannya tenang di awal, namun perlahan-lahan semakin dalam dan mengisi. Napas keduanya berpadu dalam keheningan kamar itu, hingga akhirnya mereka benar-benar menyatu. “Akhh, Zein…” suara Jasmine hampir tak terdengar, terbungkus luapan rasa yang menyesakkan dada.Zein menunduk, mengecup bahu dan tengkuk Jasmine, sambil masih membiarkan tubuh mereka menyatu. “Sakit, Sayang?” tanyanya lembut.
Read more