Suara itu tidak tinggi atau mengancam, tapi Jasmine tahu Zein sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar pelukan. Untuk pertama kalinya, Jasmine ragu... apakah ia benar-benar ingin mendorong Zein? Zein tersenyum tipis di balik helaian rambut Jasmine. “Sekarang,” gumamnya pelan, “tidur.” Pelukannya tetap erat, hangat, dan mustahil diabaikan. Jasmine mencoba mengatur napasnya. Ia masih bisa bergerak, masih bisa bicara, tapi ruang untuk menjauh terasa semakin sempit. “Zein…” bisiknya lirih. “Kalau suatu hari aku benar-benar ingin pergi?” Zein tak langsung menjawab. Hanya tangannya yang mengerat sekilas, cukup untuk membuat Jasmine sadar bahwa ucapannya didengar. Suaranya kemudian turun, tenang dan dalam, nyaris tanpa emosi. “Kalau kau ingin pergi,” gumamnya pelan di atas kepala Jasmine, “kau boleh mencoba.” Jasmine menegang. Ia tahu itu bukan izin, melainkan tantangan. Sunyi mengendap di kamar. Lalu Zein menambahkan satu kalimat, rendah dan mutlak, “Tapi kau harus
Terakhir Diperbarui : 2026-02-21 Baca selengkapnya