LOGINJasmine Vancrosso diculik dan dikurung di mansion milik Zein Von Ravelli, penguasa dunia gelap, kejam, dan hidup dari dendam masa lalu. Bagi Zein, Jasmine bukan sekadar tawanan. Gadis itu membawa sesuatu yang berbahaya: aroma mawar-vanila yang terus mengusik ketenangannya. Di antara dendam dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, Zein harus memilih: menjadikan Jasmine alat pembalasan atau mengakui bahwa ia tak lagi mampu melepaskannya. “Aku bantu? Mau?” “Bantu? Dengan apa?” “Dengan mulutku.” Penasaran sama kelanjutan ceritanya? Baca hanya di sini ya... Follow IG-nya Author: @wisha.2728
View More“Mmpphh—”
Jasmine terkejut ketika pria itu tiba-tiba menyambar bibirnya, menekan dengan kasar seperti ingin merampas napasnya. Ia berusaha mendorong dada pria itu, jantungnya berdebar liar. Namun pria itu tak mau berhenti. Bahkan tangannya mulai meraba naik ke dada Jasmine dan meremas keras. Hingga di detik berikutnya— Deg. Gerakannya terhenti. Sorot matanya berubah, dari gelap menjadi bingung. Ia menatap jemarinya yang basah, cairan putih kekuningan yang terasa hangat itu berkilau di telapak tangannya. Tatapannya berpindah ke dada Jasmine, lalu kembali ke tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya retak. “Apa ini?” . . Sore itu, langit jingga menyala. Angin menerbangkan helai rambut coklat chestnut Jasmine yang berdiri di taman mawar kesayangannya. “Wah... indah sekali ya, Bi,” ucapnya pelan, menatap hamparan mawar seperti menatap dunia luar yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Mawar-mawar itu tumbuh subur dan indah karena Anda yang merawatnya, Nona,” balas Martha, lembut. Wanita paruh baya itu sudah setia menemani Jasmine sejak kecil. Hanya dialah yang tahu betul bahwa merawat mawar adalah satu-satunya hal yang membuat Jasmine merasa hidup. Bahkan, Jasmine sudah begitu menyatu dengan mawar hingga aroma tubuhnya pun menyerupai harum bunga itu. Jasmine membentangkan tangan, merasakan kebebasan kecil yang hanya bisa ia temukan di halaman belakang mansion Vancrosso. Ia selalu menyukai mawar, bunga cantik yang berduri. Berbeda dengan melati, bunga lembut dan jinak yang menjadi citra yang keluarganya paksakan padanya sejak kecil, sama seperti namanya. Tapi mawar? Mawar bisa terluka, tapi juga mampu melukai balik. Mungkin itu sebabnya Jasmine menyayanginya. Karena jauh di dalam dirinya, ia ingin menjadi seperti bunga itu. Bukan gadis yang dikurung di balik tembok sepuluh meter dan diawasi tanpa henti. Jasmine melangkah pelan mendekati mawar merah darah yang merekah sempurna. Jemarinya yang lentik dengan hati-hati memotong tangkai mawar yang berduri. “Hati-hati durinya, Nona,” peringat Martha sambil membawa keranjang rotan. Wanita tua itu berdiri sigap, menatap Jasmine dengan sorot mata keibuan yang hangat. Jasmine tersenyum lembut. “Tenang saja, Bi. Aku sudah hafal mana yang tajam.” Di usia 20 tahun, kecantikan Jasmine mekar seperti bunga-bunga di hadapannya. Polos dan murni, juga terjaga terlalu rapat, seolah dunia luar tak pernah diperkenankan menyentuhnya. Saat Jasmine meraih bunga berikutnya, gerakannya tiba-tiba terhenti. Martha mengerutkan keningnya pelan ketika melihat wajah Jasmine yang berubah pucat dalam sekejap. “Nona? Ada apa?” Gunting taman jatuh dari tangan Jasmine. Jari-jarinya refleks mencengkeram dada kirinya. “Sakit…” desisnya lirih, bibirnya menegang. “Bi, dadaku rasanya… panas dan kencang sekali. Seperti ditarik dari dalam.” Martha panik. “Mungkin Nona masuk angin? Atau korset gaunnya terlalu ketat?” “Bukan, Bi,” suara Jasmine pecah. Napasnya memburu. Tubuhnya mulai gemetar. Rasa itu datang begitu tiba-tiba, seperti tarikan dari dalam tubuhnya sendiri. Nyeri itu bukan seperti tusukan jarum, melainkan seperti sengatan listrik halus yang menjalar dari belakang matanya, turun ke leher, lalu menghantam dadanya dengan sensasi penuh yang menyakitkan. “Bi... ini—ini ada yang aneh,” bisik Jasmine ketakutan. Dan di detik itulah gadis itu merasakannya. Sensasi basah yang hangat dan asing. Mata Jasmine seketika membelalak saat menunduk. Gaun sutra berwarna cream yang ia kenakan tampak basah. Tepat di bagian dadanya. Noda bulat itu semakin melebar dalam hitungan detik, membuat kain mahal itu menempel pada kulitnya. “Bi...” Suaranya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Apa ini? “Kenapa aku… basah? Apa yang terjadi padaku?” Martha ternganga. Wajah wanita tua itu memucat lebih parah dari Jasmine. Ia tahu Nona mudanya gadis yang suci, bahkan terlalu suci. Tidak pernah disentuh laki-laki, tidak pernah bersentuhan erat dengan siapa pun. Namun yang keluar dari dada Jasmine sekarang, menghancurkan logika akal sehatnya. Cairan putih kekuningan merembes deras, tak terbendung. “Ya Tuhan...” Martha langsung menjatuhkan keranjangnya, segera melepas syal lebarnya untuk menutupi dada Jasmine. “Nona, cepat! Kita masuk ke kamar!” bisiknya panik sambil memapah Jasmine. “Jangan sampai para penjaga melihat ini!” Jasmine nyaris tersandung, tubuhnya lemah karena nyeri dan kebingungan. “Bi… apa yang salah denganku? Kenapa tubuhku seperti ini?” Martha menelan ludah. Ada ketakutan lain di matanya, yang tidak Jasmine pahami. “Saya juga tidak tahu, Nona. Tapi sekarang... kita harus segera masuk. Ini—ini tidak boleh ada yang tahu.” *****Dengan gerakan pasti, Zein melepas celana piyamanya tanpa ragu dan melemparkannya begitu saja, tak sabar melanjutkan permainan panas di pagi itu.Tanpa aba-aba, tubuhnya membungkuk, tangannya menyentuh kaki Jasmine yang putih dan halus, hendak membukanya lebar-lebar. Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera merasakan dan memanjakan lipatan tersembunyi milik sang gadis yang sudah cukup basah itu. “Ah, Zein... kamu mau apa di sana?” suara Jasmine bergetar, terkejut. Jemarinya refleks menahan tangan Zein sambil merapatkan pahanya.Zein mengangkat wajah, tatapannya nakal.“Aku mau memberimu pengalaman yang bikin kamu melayang dan lupa dunia, Sayang,” bisiknya pelan namun menggoda.Dengan gerakan lembut, Zein kembali membuka kaki Jasmine dan melipat lututnya. Detik itu juga, matanya terpaku pada lipatan tersembunyi milik Jasmine yang putih mulus tanpa satu pun bulu. Napasnya tertahan sesaat, jakunnya naik turun saat menelan ludah, tak mampu mengalihkan pandangan dari keindahan lipatan sempi
Jasmine seketika membuka matanya. Tatapannya segera bertemu dengan wajah Zein yang berada sangat dekat di depannya. Keduanya saling menatap, napas mereka masih saling bertabrakan, hangat, tersisa dari ciuman panjang barusan. Tak ada yang langsung bicara, hanya tatapan dan detak jantung yang sama-sama belum kembali normal. Tangan Zein yang semakin menjalar membuat Jasmine semakin menegang menahan setiap sentuhan itu, apalagi saat Zein menekan satu tonjolan di area sensitifnya di bawah sana.Udara di kamar itu semakin panas. “Boleh kan... aku sentuh ini?” tanya Zein dengan suara serak, sementara satu tangannya masih menyentuh lipatan yang kini sudah basah, seolah enggan melepaskan kehangatan yang terasa di telapak tangannya.Tatapan Jasmine meredup, campuran antara takut dan hasrat yang membuncah. Napasnya masih terengah, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Pagi ini Jasmine benar-benar tak ingin menghentikan semuanya. Ia mengizinkan Zein melakukan apa pun pada tubuhnya.Rencana yang s
Nama itu terucap pelan, hampir seperti napas yang tertahan. Mata Jasmine membulat sempurna, bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena apa yang kini terpampang di hadapannya terasa sangat nyata. Tubuh atletis itu bukan lagi sekadar bayangan samar di balik pakaian yang selama ini dikenakan Zein. Garis ototnya tegas. Perut sixpack yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi pada aktor-aktor drama romantis yang selalu tampak sempurna dan tak tersentuh, sekarang ada tepat di depan matanya. Dekat dan nyata.Jasmine menelan ludah, tanpa sadar tatapannya turun perlahan mengikuti kontur tubuh Zein dengan rasa takjub yang bahkan tidak ia sembunyikan.Zein mengikuti arah pandang Jasmine. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jangan tatap seperti itu,” gumamnya rendah.Jasmine tersentak, tapi tak benar-benar mengalihkan pandangannya. “Seperti apa?” tanyanya pelan, suara yang tadi tegas kini berubah lebih lembut. “Seperti kamu sedang menahan sesuatu.” Jantung Jasmine berdegup lebih cep
Bibir Zein masih menempel erat pada bibir Jasmine yang mulai melebur bersama desahan dan napas beratnya. Tangannya cekatan menyusup ke dalam kain penyangga, menyentuh bantalan kenyal itu—meremas dan memilin ujung-ujung merah jambu dengan perlahan. Sesekali ia menahan napas, tenggelam dalam kehangatan yang mereka ciptakan bersama. “Enghh... Zein...” suara Jasmine terdengar lemah, nyaris tertahan. Tubuhnya makin tertarik, seolah larut dalam gelombang kenikmatan. Setiap sentuhan Zein yang menyusuri lekuk lembut itu membuat bulu kuduk Jasmine berdiri, jantungnya berdegup cepat, seakan melayang tanpa arah. Bibir Zein perlahan beranjak dari bibir Jasmine, berkeliling menyusuri seluruh wajah gadis itu—dari pipi yang hangat, rahang yang tegang, pelipis yang halus, hingga kening yang berkerut tipis—sebelum kembali menumpuk ke bibir manis itu dengan kecupan dan lumatan penuh rasa. “Ah, Zein...” desah Jasmine bergetar, suaranya menahan segala gelombang perasaan yang membuncah di dadanya.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.