Tili sudah pernah melihatnya—saat Cal dirawat oleh dokter di Dunham. Cukup lama, tapi saat itu Tili hanya fokus pada cedera rusuknya. Kini Tili tidak melihat luka ataupun cedera, jadi tidak ada detail menarik yang terlewatkan. Cahaya kemerahan dari tungku perapian menjilat kulit Cal yang telanjang, menonjolkan setiap garis otot yang tampak kenyal. Hanya bisa menebak, Tili membayangkan dari pengalaman dan membandingkan. Tili mudah saja memilih mana yang lebih baik, Cal. Tubuh Theo tidak buruk, tapi rasanya kini tidak sempurna. Terlalu pucat. Tili masih bernapas dengan normal sampai titik itu, mengagumi dengan pantas. Tapi saat matanya mengedip dan menangkap lelehan keringat… pikirannya tidak lagi berada dalam koridor pantas. Tili menatap bahu lebar nan kokoh, tampak mengkilap oleh peluh, menyalurkan tetesan keringat yang mengalir perlahan menelusuri lekuk dadanya yang bidang. Perlahan, napas Tili tercekat di tenggorokan. Matanya, seolah memiliki kemauannya sendiri, bergerak tur
Read more