Lio duduk sambil mengaduk-aduk bubur gandumnya tanpa minat. Matanya masih sedikit bengkak, meski ia sudah berhenti menangis sejak fajar tadi.“Makanlah,” pinta Tili, sambil menepuk pelan tangan Lio. Ia sengaja meminta sarapan di kamarnya berdua saja dengan Lio agar bisa menghiburnya.Menu sarapan yang lezat sudah terhidang, tapi belum ada yang terlihat menikmatinya. Lio hanya terus mengaduk buburnya, tidak berminat menyuap."Semakin aku memikirkannya, aku semakin takjub pada keputusan Darian," buka Tili, memecah keheningan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.Lio langsung mengerucutkan bibir, meletakkan sendoknya dengan sedikit bantingan. "Kau memujinya? Dia menolakku, Tili! Dia membuangku di depan ayahku sendiri!""Bersabarlah sedikit, Lio. Coba cerna situasinya dengan kepala dingin," bujuk Tili lembut. "Darian bukan tidak punya perasaan padamu, dan kau sangat paham soal itu. Kau tahu persis dia menyukaimu." Tili mendengar cerita lengkapnya dari Lio semalam, jadi bisa mengambil
Last Updated : 2026-04-18 Read more