“Alia, waktunya bangun!” Aldren menepuk pipi Alianne dengan lembut, namun cukup untuk menariknya keluar dari alam tidur yang pekat.Bulu mata Alianne bergetar pelan sebelum akhirnya kedua pupil cokelatnya terbuka perlahan. Pandangannya masih buram, seolah dunia di sekitarnya belum sepenuhnya terbentuk. Namun, begitu fokusnya kembali, napasnya tertahan.Seorang pria berdiri sangat dekat di hadapannya. Wajahnya tampan, sorot matanya tajam, dan keberadaannya terlalu... nyata untuk diabaikan.Jantung Alianne berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, ia langsung mendorong tubuhnya bangkit hingga duduk tegak. Jarak di antara mereka mendadak terasa terlalu sempit, terlalu menyesakkan. “Maaf, kau siapa?!” tanyanya dengan suara yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kepanikan.Aldren terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap Alianne, seolah mencoba memahami apakah ini lelucon, atau sesuatu yang jauh lebih serius. Alisnya sedikit berkerut, kebingungan mulai merayap di wajahnya. “Apa maksudmu? Aku adala
Read more