Malam itu pekat, seolah menelan segala cahaya yang berani muncul. Hanya sinar bulan yang redup, tertutup tipis oleh awan yang sesekali melintas, menjadi satu-satunya penerang di langit luas. Bayangan pepohonan memanjang di tanah, bergoyang pelan tertiup angin malam yang dingin, menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi siapa pun yang melintasinya. Di bawah langit yang muram itu, beberapa kereta kencana bergerak perlahan memasuki wilayah Kerajaan Aurenthia. Roda-roda kayunya berdecit halus, hampir tenggelam oleh kesunyian malam. Tidak ada lambang, tidak ada ukiran khas yang menunjukkan asal-usulnya. Kereta-kereta itu tampak seperti milik rakyat biasa, menyatu dengan kegelapan, seakan sengaja menghindari perhatian siapa pun yang mungkin mengintai dari kejauhan. Padahal, di dalamnya, duduk para Ksatria dari pasukan istana Obsidian. Di salah satu kereta, seorang pria duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Tatapannya lurus menembus celah tirai, mengamati deretan rumah yang m
Read more