LOGINHanna hanya bisa menahan rasa bahagianya. Lucu sekali, ia sudah lama tidak diajak kencan dan berkencan dengan seseorang. Di depannya, Kenzo sudah datang menjemput Hanna dengan private yacht mewah yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Kapal itu besar, elegan, dengan deck kayu jati mengkilap, jacuzzi di atas, dan kabin master yang menghadap laut lepas. Hanna berdiri di dermaga Pulau Sakura saat yacht mendekat. Angin laut meniup gaun linen putih panjangnya yang menutupi bikini berwarna senada. Ia memandang kapal itu dengan sedikit kagum dan was-was. Kenzo turun dari yacht dengan senyum lebar, mengenakan kemeja linen putih dan celana pendek santai. Ia langsung memeluk Hanna erat, mencium keningnya. “Siap sayang?” tanyanya pelan. Hanna tersenyum tipis. “Kita mau kemana?” Kenzo menatap mata hijau Hanna dengan penuh tekad. “Ke tempat yang jauh… ke tempat gak akan ada orang yang ganggu kita. Cuma kamu dan aku.” "Hmm...baiklah...," ucap Hanna sambil mengangguk pelan. Ia tid
"Iya… ahh… suka… lebih keras… ahh...enakkk...Yamamoto… aku mau keluar lagi!”Yamamoto mempercepat gerakan jarinya, lidahnya menekan klitoris dengan kuat. Aiko menjerit saat orgasme kedua datang lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya kejang hebat, cairannya menyembur ke mulut Yamamoto. Ia hampir ambruk ke depan, tapi Yamamoto memegang pinggulnya erat.Belum memberi Aiko waktu istirahat, Yamamoto membalik tubuhnya lagi hingga telentang. Ia melepas kemeja dan celananya dengan cepat, memperlihatkan tubuh atletis dan senjata tumpulnya yang sudah sangat keras dan menegang."Wahh..." ucap Aiko lirih saat melihat betapa sexynya ternyata Yamamoto selama ini dan betapa besar batang kenikmatan yang ia punya. Di pikirannya ia berpikir kemana saja dia selama ini.Yamamoto naik ke atas tubuh Aiko, mencium bibirnya kasar sambil menggosok-gosokkan kepala penisnya yang basah di klitoris Aiko yang masih sensitif."Aiko...apakah aku diijinkan?""Ahh...Yamamoto...kamu...selama ini..."“Kamu basah banget… a
Yamamoto menciumi leher Anna pelan. Bau vanila dan aroma tubuh Aiko yang hangat memenuhi indranya. Lidahnya menelusuri tulang selangka, meninggalkan jejak basah yang dingin saat terkena udara AC. Yamamoto membuka kancing gaun Aiko dengan perlahan, kain sutra itu meluncur turun dengan desiran lembut, memperlihatkan bra hitam renda dan kulit putih Aiko yang berkilau karena keringat tipis. Payudara Aiko naik-turun cepat. Yamamoto menunduk, mencium belahan dadanya dalam-dalam, menghirup aroma kulit yang hangat. Lalu Ia melepas bra dengan satu tangan, lalu menyembah payudara kiri Aiko dengan mulutnya. Lidahnya berputar lambat di sekitar puting yang sudah mengeras, menyedotnya pelan sambil tangan kanannya meremas payudara kanan dengan lembut tapi penuh nafsu. Rasa manis kulit Aiko memenuhi mulutnya. “Ahh… Yamamoto…” desah Aiko panjang, suaranya pecah. Punggungnya melengkung, tangannya mencengkeram rambut Yamamoto erat. Yamamoto naik perlahan ke atas tubuh Aiko, tapi ia tidak buru-buru
Matahari bersinar cerah, tapi tidak hati Yamamoto. Hatinya kelabu. Suasana di kantor terasa sangat canggung setelah kejadian semalam.Yamamoto berusaha menghindari Aiko sepanjang hari, tapi setiap kali mereka bertemu di koridor atau ruang rapat, mata mereka langsung bertemu dan sama-sama membuang muka. Yamamoto jadi lebih diam dari biasanya, sementara Aiko terlihat gelisah dan sering ke toilet hanya untuk mencuci muka. *** Di sisi lain di ruangannya, Aiko hampir melupakan adegan panasnya bersama Kenzo. Ia masih bisa merasakan bibir Yamamoto di bibirnya. Hangat. Gemetar. Penuh perasaan. "Pikiranku tidak waras!" seru Aiko yang menggerutu sambil menarik ponsel dan tasnya di atas meja. Segera ia mengangkat tubuhnya dan beranjak ke arah pintu keluar. "Kalau ada perlu apa-apa suruh datang besok aja. Hari ini aku mau pulang lebih awal," ucap Aiko kepada sekretarisnya yang sedang asik bedakan di meja depan ruangannya. "Baik!" *** Anna duduk sendirian di pojok bar rooftop sebuah hotel
Yamamoto duduk di meja makan kecil apartemennya dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya lelah, rambutnya acak-acakan. Ia membuka email yang masuk pukul 06.47 pagi. Dari: Admin Pulau Cinta: Terima kasih atas ketertarikan Anda. Sayang sekali, saat ini kami sedang tidak tutup untuk sementara waktu. Kami akan memberitahu Anda secepatnya jika ada slot baru. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Yamamoto mengepalkan tangan di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Layar ponselnya masih menampilkan foto Anna yang ia simpan sebagai wallpaper — senyum Anna yang manis. “Tutup sementara?” gumamnya pahit. “Sial.” *** Anna dan Yamamoto menikmati makan malam mereka yang bernuansa western food sambil bercanda dan ngobrol bersama seperti biasanya. Anna mengenakan dress biru navy sederhana tapi elegan yang membuat Yamamoto sulit bernapas. Mereka makan malam di restoran Jepang yang tenang, duduk di meja pojok dekat jendela. "Anna, kita kemping yu?" tanya Yamamoto. "Dah lama kita g
Di koridor lantai 38 gedung Perusahaan Y, suara langkah kaki Yamamoto berhenti tiba-tiba saat dia melihat pintu ruangan pribadi Anna terbuka pelan. Yamamoto—pria berusia 28 tahun dengan rambut hitam pendek rapi, kemeja putih kantor yang selalu disetrika sempurna, dan tatapan mata cokelat yang selalu tenang tapi penuh rahasia—sedang membawa berkas legal yang diminta Anna untuk sore itu. Tapi saat pintu terbuka, yang keluar bukan Anna, melainkan Kenzo Tanaka—jas abu-abu gelapnya sedikit kusut, rambut hitamnya acak-acakan tapi tersenyum puas, langkahnya tenang seperti pria yang baru saja menang lotre. Yamamoto membeku di tempat, jantungnya berdegup kencang seperti drum perang yang tiba-tiba dibunyikan. Dia tahu siapa Kenzo—CEO Tanaka Group yang sedang negosiasi merger dengan Y. Tapi melihat Kenzo keluar dari ruangan pribadi Anna, dengan senyum itu... itu seperti pisau yang menusuk pelan tapi dalam. Anna muncul di belakang, dress bisnis hitamnya sudah rapi lagi, tapi pipinya masih merona
Di pelabuhan Pulau Cinta, angin laut malam hari membawa aroma garam dan misteri. Kapal cepat mewah berlabuh dengan pelan, mesinnya mati di tengah deru ombak kecil. Dengan gagah seorang pria turun dari kapal, tubuhnya tinggi dan berotot, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata coklat yang penu
Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggant
Di saku kemejanya, Kenzo meraba kartu akses hotel bintang lima yang sempat ia tempati sebelum dijemput. Di sana, ia sempat membaca ulang berkas-berkas digital tentang "Konsultan" ini. Website Pulau Cinta sendiri adalah mahakarya teknologi. Sebagai ahli IT, Kenzo sempat mencoba meretas firewall-nya h
Malam di pulau Sakura itu selalu memiliki aroma yang sama: perpaduan antara uap laut yang asin dan wangi bunga night-blooming jasmine yang tumbuh subur di sekitar mansion. Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke samudera Hindia, Hanna berdiri mematung. Angin laut yang kencang mempermainkan r







