Belasan ahli Garudapolis berdiri semakin rapat di depan Ryan. Terence Siven berada paling depan. Wajahnya keras seperti baja, sedangkan tubuhnya tegak menantang hampir seratus tokoh Negeri Ginseng yang sudah siap menerjang. "Winston, bawa Dara pergi!" ucap Terence tanpa menoleh. Pelayan tua itu segera bergerak, hendak menarik Dara mundur. Namun Dara menepis tangannya dengan keras. Air matanya sudah jatuh berderai, tetapi kedua kakinya tetap menancap di tanah, seolah ia tidak akan mundur meski langit runtuh. "Ayah, tidak. Kalau pergi, kita pergi bersama. Kalau mati, kita mati bersama!" Terence hendak membentak, tetapi Dara sudah lebih dulu berbicara lagi. Suaranya terisak, tetapi tekadnya tidak goyah. "Bertahun-tahun Ayah menahan diri, menunduk, dan menelan hinaan, semuanya demi Dara." "Hari ini biar Dara yang mengatakannya. Putri Terence Siven bukan pengecut yang takut mati!" "Dasar bocah nakal!" Terence memarahinya, tetapi sudut bibirnya justru terangkat tipis. Sidney
Read more