"Jadi maksudmu ingin main tangan?" Reynard Ridwan tertawa karena terlalu geram. Bukannya gugup, ia justru menatap Ryan dengan sikap yang jauh lebih angkuh daripada sebelumnya. Seolah di matanya, pria di hadapannya bukan ancaman, melainkan badut yang tidak tahu sedang berdiri di tempat seperti apa. "Sudah lebih dari dua puluh tahun aku hidup, baru kali ini bertemu orang sebuta dirimu. Menarik juga." Ia memang berkata seperti itu, tetapi kilat niat membunuh sudah melintas di matanya. Di seluruh Kota Kencanapura, siapa yang tidak mengenal nama Tuan Muda Kedua Keluarga Ridwan? Selama ini, ke mana pun Reynard pergi, orang selalu menunduk, memberi jalan, dan memperlakukannya dengan hormat setinggi mungkin. Namun hari ini, Ryan berani membuat onar di acaranya, mengacaukan suasana, bahkan sama saja seperti menampar wajahnya di depan umum. Memikirkan itu, Reynard hendak mengangkat ponsel untuk memanggil petugas keamanan. "Berlutut!" Suara Ryan meledak di telinganya seperti guruh yan
Read more