"Contohnya tadi, ada orang tua menyeberang jalan tanpa memedulikan bahaya. Kalau itu adikmu, Reynard Ridwan, dia pasti sudah membunyikan klakson berkali-kali, memaki-maki, atau bahkan langsung menabraknya begitu saja." Sampai di sana, secercah rasa muak melintas di mata Rania Permana. Ia masih mengingat jelas betapa santainya Reynard ketika mengendarai mobil di sekitar Galeri Seni Kencanapura tadi. Baginya, nyawa orang biasa seolah bukan nyawa, melainkan debu yang kebetulan menghalangi jalan. "Namun kau berbeda," lanjut Rania. "Kau tidak memaki, tidak menekan klakson, dan tidak memperlihatkan kesal sedikit pun." "Kau menghentikan mobil, menunggu dengan sangat sabar sampai orang tua itu selesai menyeberang, baru menjalankannya lagi." Ia kembali menoleh ke arah pria di sampingnya. Rania mengamati garis rahang Ashton yang tenang, juga kedua tangannya yang santai di atas kemudi. Ia seperti berusaha mencari sedikit kepalsuan dari sikap lelaki itu, tetapi tidak menemukan apa pun.
Read more