"Uhuk. Uhuk." Pendeta Tua terbatuk dua kali, jejak darah merah di sudut bibirnya. Tapi wajahnya tidak mencerminkan penderitaan. Senyumnya tetap ada di sana, tipis dan tenang. "Kukatakan sekali lagi, Anak Pedang, aku sudah hampir di ujung. Tidak bisakah kau panggil aku Guru setidaknya sekali?" Pemuda Berjubah Putih tidak langsung menjawab. Ketika ia membuka mulut, kata-katanya keluar pelan dan tidak banyak. "Pergilah dengan tenang. Dendammu akan kubayar." Kalimat itu singkat. Tapi bukan karena tidak peduli. Di dunia ini, ia tidak mengenal konsep Guru. Tidak ada teman. Yang ia kenal hanya satu hubungan, satu kata. Tuan. Ia adalah pelayan sekaligus teman bagi Tuannya. Sudah ada di sisinya sejak Tuan masih di Tahap Pemurnian Qi yang paling awal. Lebih dari lima ribu tahun mereka berdua melintasi Dunia Tak Terhitung bersama, satu jiwa dan satu pedang, sampai akhirnya berdiri di puncak Alam Abadi, Zhentian. Namanya Solus. Satu-satunya. Dan ia juga dikenal dengan nama lain. Peda
Read more