Junaidi tidak membuang waktu untuk berpura-pura sopan. "Membantuku? Justru selama ini aku sudah tidak nyaman dengan dia." "Terus-terusan perintah ini itu karena merasa jadi pacarnya Ricardo. Diana sama Natalia juga sama, ikut-ikutan jumawa cuma karena nempel sama dia." "Kamu ini..." Karyawan wanita itu menoleh ke Junaidi dengan marah. Sebelum ia selesai, seorang pria yang agak gemuk di sudut ruangan menimpali dengan nada yang tidak berusaha halus. "Junaidi benar juga. Ada orang yang luar biasa sekali." "Waktu sepupunya datang kerja di sini, bukan cuma tidak dibantu, malah diperlakukan dingin, pura-pura tidak kenal." "Sekarang sudah terbukti kan, yang layak dipecat ya dipecat, yang bertahan ya karena memang layak." Beberapa orang lain ikut menimpali, ada yang sinis, ada yang sekadar ingin bersuara. Serangkaian komentar itu jatuh satu per satu di atas Wendy seperti sesuatu yang berat dan tidak bisa ia angkat. Hidungnya terasa panas. Ia menekan mulutnya dengan tangan. "Sudah!
Read more