Pria tua itu menatap papan menu yang ditulis dengan spidol hitam di atas papan kayu, ekspresinya setengah memohon. "Vivian, kita makan mi kuah di sini saja ya?" Wanita yang dipanggil Vivian itu mengerutkan bibirnya, memandangi warung pinggir jalan itu dari kursi dengan tatapan yang tidak bisa menyembunyikan rasa kurang nyamannya. "Kakek, lebih baik kita ke restoran Pak Leo saja. Kalau makan di tempat seperti ini, nanti kalau ada masalah dengan kebersihannya..." "Nona." Sang kakek pemilik warung, yang tidak jauh dari meja mereka, mendengar kalimat itu dari jarak dekat. Wajah jujurnya sedikit tersengat, tapi suaranya tetap sopan dan tidak kehilangan nadanya. "Warung saya memang tidak sebesar restoran, tapi sudah lima tahun berdiri di sini. Bahan-bahannya saya jamin bersih dan asli. Kalau ada masalah, saya tanggung jawab penuh." "Memangnya sanggup?" Vivian sudah hampir melanjutkan kalimatnya ketika tangan sang pria tua terangkat pelan, memotong. "Sudah, Vivian." Nada pria tua itu be
Read more