Ekspresi Ryan tidak berubah. Dia menurunkan botol itu pelan, pura-pura sibuk memperhatikan Aira yang sedang menggeser posisinya di gendongan. Di dalam, pikirannya sudah bekerja. "Ryan!" Suara Xara memotong. Bukan teriakan, tapi intensitasnya cukup untuk membuat Ryan menoleh langsung. Dia berdiri dua langkah dari Ryan, wajahnya mengandung ekspresi seseorang yang baru saja membuat keputusan dan belum yakin apakah itu keputusan yang benar. "Ada apa?" "Tidak ada." Xara melambaikan tangan cepat, menggeleng. "Tidak ada apa-apa." Ryan menatapnya sebentar. Lalu mengangguk. Lalu mengangkat botol itu kembali ke arah bibirnya. Xara melangkah maju setengah langkah. Gedebuk. Kakinya tersandung, tubuhnya condong ke depan tidak terkendali, dan bahunya menghantam siku Ryan. Botol itu terlepas dari tangannya, jatuh ke aspal, dan seisi minumannya menyiram tanah dengan bunyi percikan yang sama sekali tidak dramatis. "Aduh, maaf." Xara mundur selangkah, ekspresinya campuran antara panik dan s
Read more