Kapal dagang itu jauh lebih besar dari kesan pertama di luar. Ryan mengikuti dua orang berseragam tadi melewati koridor demi koridor, dan semakin jauh masuk, semakin jelas bahwa bangunan ini tidak beroperasi seperti kapal dagang biasa. Tata letaknya salah. Peralatannya terlalu canggih. Dan ketika mereka melewati salah satu koridor samping, Ryan menoleh sekilas ke pintu yang terbuka setengah. Di baliknya, peti-peti tersusun rapi sampai ke langit-langit. Kilap yang keluar dari celah salah satu peti yang tidak tertutup sempurna hanya bisa dihasilkan oleh satu jenis bahan di dunia ini. Emas. 'Pemilik kapal ini bukan orang sembarangan.' Pintu ruangan yang sudah disiapkan terbuka, dan sebelum Ryan sempat sepenuhnya masuk, seorang pria paruh baya bertubuh agak gemuk sudah melangkah maju dengan kedua tangan terentang dan senyum yang tidak perlu diusahakan sama sekali. "Akhirnya ketemu juga! Selamat datang, Tuan Ryan Hartono!" Caranya berjalan, caranya tersenyum, cara kepribadiannya
Read more