Lampu minyak di kamar Aurelia bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hantu di dinding. Setelah pertempuran yang melelahkan di lapangan latihan, tubuh Aurelia terasa remuk, namun pikirannya jauh lebih kacau. Ia melangkah menuju tempat tidur, berniat untuk segera mengistirahatkan tubuhnya. Namun, langkahnya terhenti. Di atas bantal hitam yang mewah itu, terselip selembar kertas lusuh dengan noda kecokelatan yang samar. Aurelia mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Saat hidungnya menangkap aroma kertas tersebut, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Bau ini..." bisiknya. Aroma kakao yang manis, namun menusuk. Bau susu cokelat yang selalu diberikan Elias setiap malam di dunia nyata. Dengan tangan yang kian dingin, ia membuka lipatan surat itu. “Alya, aku tahu kau ada di sana. Aku tahu kau ketakutan sendirian di dunia yang gelap ini. Sarah sangat menyesal, kami berdua mencarimu. Datanglah ke perbatasan hutan sisi utara malam ini saat bulan mencap
Baca selengkapnya