Malam di jantung Aethelgard terasa lebih dingin dari biasanya, namun bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin yang murni. Di tengah altar batu kuno yang dikelilingi oleh aliran air suci, Aurelia berdiri sendirian. Di atasnya, dahan-dahan Pohon Kehidupan bersinar redup, seolah memberikan restu pada jiwa yang sedang berjuang untuk merdeka. Raja Aethelhelm berdiri di depan Aurelia dengan jubah kebesarannya yang berwarna hijau lumut tua. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu yang di puncaknya tertanam kristal bening sebesar telur angsa. "Waktunya telah tiba, Aurelia," suara Aethelhelm bergema, berat dan penuh wibawa. "Malam ini, kita tidak hanya memutuskan kutukan. Kita akan memisahkan dua takdir yang seharusnya tidak pernah bersatu. Kau harus kuat. Eleanor akan merasakan jiwanya robek, dan dia tidak akan membiarkanmu pergi tanpa perlawanan." Di pinggir altar, Xaverius berdiri diam seperti patung hitam. Tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya yang seme
Last Updated : 2026-02-14 Read more