Malam merayap lambat di atas langit Nocturnia, namun bagi mereka yang bersembunyi di ruang rahasia bawah tanah, waktu seolah membeku dalam ketegangan yang menyesakkan. Hari kedua hampir berakhir, dan tanda-tanda Bulan Obsidian Pertama mulai muncul di cakrawala, yaitu sebuah fenomena yang menandakan titik nadir kekuatan Xaverius. Di dalam ruangan sempit yang hanya diterangi sebatang lilin yang hampir habis, Aurelia duduk meringkuk di sudut. Tangannya yang biasanya terampil merawat tanaman mawar kini bergetar hebat di atas pangkuannya. Setiap kali suara dentuman dari lantai atas, yakni suara benturan senjata atau teriakan prajurit, bergema di dinding batu, tubuhnya tersentak kecil. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Tangan ini begitu halus, begitu manusiawi. "Aku... aku benar-benar tidak berguna," bisik Aurelia, suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi kain jubahnya yang kotor. "Xaverius sedang berjuang dengan jiwanya sendiri di bawah sana, keraja
続きを読む