Derap langkah kuda memecah kesunyian fajar di perbatasan barat Nocturnia. Aurelia berkuda di barisan paling depan, jubah hitam berlogam peraknya berkibar tertiup angin dingin. Di sampingnya, Xaverius menunggangi monster hitam pekat yang langkahnya tidak mengeluarkan suara, seolah-olah sang Raja Iblis sendiri adalah bagian dari kegelapan itu. Di belakang mereka, barisan ksatria Nocturnia dan para pengungsi yang mampu bertarung mengikuti dengan wajah tegang namun penuh determinasi. "Lihat itu," Kael menunjuk ke arah cakrawala. Di kejauhan, bendera Valeraine berkibar tertiup angin, namun ada yang aneh dengan pemandangan itu. Langit di atas perkemahan pasukan manusia berwarna ungu gelap, yakni hampir menyerupai luka yang menganga di atmosfer. Itu bukan sihir manusia biasa. Itu adalah aura yang sangat dikenal oleh Aurelia, yaitu aura yang sama dengan prajurit bayangan yang menyerang desa, namun dalam skala yang jauh lebih masif. Ketika mereka sampai di lembah perbatasan, pasukan gabungan
Baca selengkapnya