Cahaya keemasan dari pena sang "Penulis Asli" itu tiba-tiba memudar, tersedot kembali ke dalam botol ungu yang dipegang Aurelia. Waktu yang membeku pecah seperti kaca. Xaverius tersentak, tangannya refleks memegang lehernya yang tadi sempat terasa perih, namun luka itu hilang seolah hanya halusinasi. Wanita misterius itu menghilang dalam sekejap, meninggalkan aroma kertas tua yang terbakar. "Aurelia? Kau melamun lagi," suara Xaverius memecah keheningan. Ia menatap Aurelia dengan dahi berkerut. "Wajahmu pucat. Apa kau benar-benar tidak ingin menghadiri jamuan antarkerajaan itu?" Aurelia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu. Ia menatap botol racun di tangannya, lalu dengan gerakan tegas, ia menuangkan isinya ke dalam pot tanaman berduri di sudut aula. Tanaman itu langsung layu dan menghitam. "Tidak, Xaverius," Aurelia berbalik, matanya berkilat dengan tekad baru. "Aku justru sangat ingin datang. Bukankah ini pesta 'Kesepakatan Benua' yang dihadiri ol
Last Updated : 2026-01-29 Read more