Accueil / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 57 - Pelarian di lorong

Share

Bab 57 - Pelarian di lorong

Auteur: BabyCaca
last update Dernière mise à jour: 2026-02-16 08:23:54

Aroma mawar obsidian yang tadinya menenangkan kini telah menguap, digantikan oleh bau anyir besi dan ozon yang terbakar. Langit Nocturnia tertutup oleh jaring-jaring sihir penghalang yang dipasang oleh faksi konservatif, mengisolasi istana dari dunia luar. Hari kedua meditasi Xaverius baru saja dimulai, dan sang Kaisar berada dalam kondisi paling rentan—tidak sadarkan diri di balik gerbang perunggu yang kini terkunci rapat secara otomatis.

Aurelia berdiri di koridor utama dengan napas memburu.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 89 - Aula takhta kelabu

    Langit-langit Aula Takhta Valeraine yang terbuka membiarkan abu hitam turun perlahan layaknya salju kematian, menutupi lantai marmer yang retak. Di tengah ruangan luas yang kini terasa seperti makam raksasa itu, angin tidak berhembus. Udara terasa mati, berat, dan dipenuhi aroma besi berkarat yang menyengat hidung. Xaverius dan Aurelia berdiri sepuluh meter dari kaki panggung takhta. Di belakang mereka, suara pertempuran di halaman luar terdengar sayup-sayup, teredam oleh dinding sihir kedap suara yang dipasang Eleanor. Di sini, hanya ada mereka bertiga—dan satu makhluk menyedihkan yang merangkak di lantai. "Bangunlah, Ibu," suara Aurelia memecah keheningan. Nadanya tidak mengandung amarah yang meledak-ledak, melainkan kelelahan dan kesedihan yang mendalam. "Pasukanmu di luar sudah hancur. Aliansi sudah mengepung benteng ini. Tidak ada jalan keluar." Eleanor, yang duduk di takhtanya yang terbuat dari tulang belulang, memiringkan kepalanya sedikit. Gerakan itu kaku, disertai bunyi

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 88 - Gempuran utama

    Parit hitam yang mengelilingi Benteng Valeraine bukanlah air. Itu adalah cairan miasma pekat—konsentrasi kejahatan murni yang telah dicairkan selama ratusan tahun. Siapa pun yang jatuh ke dalamnya tidak akan tenggelam, melainkan akan meleleh hingga ke tulang dalam hitungan detik. Lebarnya mencapai lima puluh meter, memisahkan Pasukan Aliansi dari dinding benteng yang menjulang setinggi langit, tertutup lumut hitam dan duri besi. Julian Helios menahan kudanya di tepi parit, wajahnya pucat melihat cairan bergolak itu. "Jembatan angkatnya ditarik. Kita butuh penyihir untuk membekukan ini, atau Theron bisa membuat jembatan akar..." "Terlalu lama," potong suara berat dari sampingnya. Xaverius berjalan melewati barisan depan. Zirah hitam kembarnya menyerap sedikit cahaya yang ada, membuatnya tampak seperti lubang hitam berjalan. Ia tidak membawa perisai. Ia hanya membawa pedang besarnya, Black Sun, yang diseret di tanah, menciptakan percikan api hitam setiap kali logam bertemu batu. Aur

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 87 - Perjalanan berdarah

    Tanah di wilayah Valeraine tidak seperti tanah di tempat lain. Saat sepatu bot baja Aurelia menginjak permukaannya yang hitam dan lembek, rasanya seperti menginjak daging busuk yang sudah lama mati. Tidak ada suara serangga, tidak ada desau angin yang wajar. Hanya ada keheningan absolut yang sesekali dipecahkan oleh suara mendesis dari tanah yang mengeluarkan uap beracun. Pasukan Aliansi bergerak dalam formasi tempur yang rapat. Di barisan paling depan, para Tanker Iblis dengan perisai menara mereka membuka jalan, menebas semak belukar berduri yang seolah memiliki nyawa dan mencoba melilit kaki siapa pun yang lewat. Di belakang mereka, para pemanah Elf menjaga sisi sayap dengan mata elang mereka, sementara ksatria manusia melindungi bagian tengah yang rentan. "Energi di sini..." Julian Helios bergumam, menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya. Wajahnya pucat. Bagi manusia yang kapasitas mananya terbatas, efek penyerapan mana wilayah ini sangat menyiksa. "Rasanya seperti bern

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 86 - Mobilasasi Aliansi

    Pilar cahaya hitam yang meledak di cakrawala utara bukan sekadar pertunjukan sihir. Itu adalah undangan perang terbuka. Getaran tanah yang dihasilkannya meruntuhkan sisa-sisa kegembiraan Festival Fajar Baru dalam sekejap. Sorak-sorai rakyat yang tadi memuja Aurelia kini berubah menjadi hening yang mencekam, digantikan oleh suara langkah kaki ribuan prajurit yang berlari mengisi pos tempur. Xaverius tidak membuang waktu sedetik pun. Aura hitam pekat menyelimuti tubuhnya, mengganti kemeja santainya menjadi jubah perang dalam sekejap mata. "Silas!" suara Xaverius menggelegar tanpa perlu sihir pengeras suara. "Aktifkan Protokol Perang Total! Perintahkan seluruh Jenderal untuk membawa pasukan mereka ke Gerbang Utara dalam sepuluh menit. Siapa pun yang terlambat akan kutinggal!" "Siap, Yang Mulia!" Silas membungkuk cepat, lalu menghilang dalam kepulan asap teleportasi. "Kael!" "Hadir, Bos!" Kael muncul, helm perangnya sudah terpasang miring di kepala, menutupi rambutnya yang masih berk

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 85 - Fajar baru Nocturnia

    Langit di atas Desa Greymist, yang selama tiga hari terakhir tertutup oleh kubah kaca yang menyesakkan, malam ini dibelah oleh ribuan sayap hitam. Gagak-gagak Bayangan milik Xaverius menukik turun bagaikan hujan meteor gelap, namun cakar mereka tidak membawa kematian. Di kaki mereka, terikat botol-botol kristal kecil berisi cairan perak yang bercahaya—"Cairan Fajar Baru". Pyarr! Pyarr! Pyarr! Sesuai instruksi Silas, gagak-gagak itu menjatuhkan botol tersebut tepat di titik-titik tertinggi desa. Saat botol pecah, cairan perak di dalamnya tidak menetes ke tanah, melainkan meledak menjadi kabut halus yang berkilau. Angin malam membawa kabut itu menyelimuti seluruh desa, menyentuh setiap pohon, setiap rumah, dan setiap makhluk hidup yang telah membeku menjadi patung kristal. Di tengah alun-alun desa, Kael—yang telah dikirim lebih dulu dengan portal darurat—berdiri dengan cemas. Rambutnya yang masih berkedip-kedip warna-warni (Merah-Kuning-Hijau) menjadi satu-satunya sumber cahaya yang

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 84 - Harapan yang mengalir

    Laboratorium Silas yang biasanya berbau bahan kimia tajam dan debu kuno, malam ini dipenuhi oleh ketegangan yang hening. Di tengah ruangan, Aurelia duduk di kursi periksa dengan lengan baju tersingkap. Sebuah jarum perak yang sangat halus—yang Silas tempa khusus dalam waktu lima menit karena ancaman Xaverius—perlahan mendekati kulit lengan sang Permaisuri. Xaverius berdiri tepat di samping Aurelia, matanya yang merah menyipit tajam, mengawasi setiap pergerakan tangan Silas seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya. "Ingat batasanmu, Silas," suara Xaverius rendah, namun beratnya sanggup meremukkan batu. "Satu cangkir. Jika kau mengambil lebih dari itu, aku akan menguras darahmu sendiri untuk menggantinya." "Saya mengerti, Yang Mulia. Tangan saya stabil seperti batu," jawab Silas, meskipun keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tekanan aura Xaverius jauh lebih menakutkan daripada prosedur medis ini. Cesss. Jarum itu menembus kulit. Aurelia hanya meringis kecil, hampir tida

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status