Kepala Aurelia terasa seolah dihantam oleh palu godam raksasa. Pandangannya berputar, dan hal terakhir yang ia ingat hanyalah cahaya putih menyilaukan dari kakaknya, Caelum, yang seakan ingin membedah jiwanya. Namun, saat kesadarannya perlahan kembali, bukan suara malaikat yang ia dengar, melainkan suara ledakan dan makian yang sanggup meruntuhkan paviliun istana. BUMMM! "KAU IBLIS TIDAK BERGUNA! KAU BAHKAN TIDAK BISA MELINDUNGI ADIKKU DARI SERANGAN KAKAKNYA SENDIRI!" Aurelia merintih, mencoba membuka mata. Ia menemukan dirinya berbaring di sofa empuk di ruang tengah paviliun. Aroma kayu cendana dan salju yang biasanya menenangkan kini tercampur dengan bau hangus dari luar jendela. "Jaga lidahmu, Pangeran Perak," suara rendah Xaverius bergema, lebih mirip geraman monster yang tertahan. "Jika kau tidak sibuk mematung seperti patung ksatria murah di Akademi, mungkin kau bisa melakukan sesuatu. Tapi sepertinya bakatmu memang hanya berdiri dan meratap." "Setidaknya aku tidak mem
Última actualización : 2026-02-21 Leer más