Laboratorium Silas yang biasanya berbau bahan kimia tajam dan debu kuno, malam ini dipenuhi oleh ketegangan yang hening. Di tengah ruangan, Aurelia duduk di kursi periksa dengan lengan baju tersingkap. Sebuah jarum perak yang sangat halus, yang Silas tempa khusus dalam waktu lima menit karena adanya ancaman dari Xaverius, perlahan mendekati kulit lengan sang Permaisuri. Xaverius berdiri tepat di samping Aurelia, matanya yang merah menyipit tajam, mengawasi setiap pergerakan tangan Silas seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya. "Ingat batasanmu, Silas," suara Xaverius rendah, namun beratnya sanggup meremukkan batu. "Satu cangkir. Jika kau mengambil lebih dari itu, aku akan menguras darahmu sendiri untuk menggantinya." "Saya mengerti, Yang Mulia. Tangan saya stabil seperti batu," jawab Silas, meskipun keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tekanan aura Xaverius jauh lebih menakutkan daripada prosedur medis ini. Cesss. Jarum itu menembus kulit. Aurelia hanya meringis kecil
Ler mais