Home / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 90 - Debat berdarah

Share

Bab 90 - Debat berdarah

Author: BabyCaca
last update Last Updated: 2026-02-28 10:20:57

Xaverius tidak membiarkan Aurelia tenggelam dalam keputusasaan sedetik pun. Dengan gerakan kasar namun protektif, ia menarik lengan Aurelia, memaksanya bangkit berdiri. Tangan besarnya yang terbalut sarung tangan besi mencengkeram bahu Aurelia, menyalurkan kehangatan nyata yang kontras dengan dinginnya kebenaran yang baru saja terungkap.

"Jangan dengarkan ocehan orang gila, Aurelia," geram Xaverius, matanya merah menyala menatap Eleanor. "Kau adalah istriku. Kau adalah Permaisuri Nocturnia. It
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 92 - Sihir pemurni

    Bentrokan antara Xaverius dan Eleanor bukanlah pertarungan pedang biasa; itu adalah tabrakan dua bencana alam. Xaverius bergerak seperti kilat hitam, pedang Black Sun-nya menebas udara, menciptakan celah dimensi yang melahap bayangan-bayangan Eleanor. Namun, sang Ratu Penyihir tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Setiap kali Xaverius memotong satu tentakel bayangan, dua tentakel baru tumbuh dari punggung Eleanor, lebih besar dan lebih ganas. "Sia-sia, Menantu!" Eleanor tertawa, suaranya tumpang tindih dengan geraman rendah makhluk purba. Ia mengibaskan tangannya, dan gelombang kejut hitam meledak, memukul mundur Xaverius hingga terseret beberapa meter di lantai marmer yang hancur. "Kau melawan kegelapan dengan kegelapan? Itu seperti mencoba memadamkan api dengan minyak!" Xaverius memuntahkan darah segar. Zirah hitamnya yang legendaris mulai retak di beberapa bagian. Ia bangkit kembali, matanya merah menyala tak kenal menyerah. "Aku tidak peduli. Aku akan mencincangmu sampai tida

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 91 - Akhir sang saudara

    Rasa dingin yang menyengat itu tidak datang dari kulit yang robek, melainkan dari dalam tulang sumsum. Saat belati hitam berkarat milik Lyra menembus celah sempit di bagian belakang leher zirah Aurelia, dunia di sekitar Aurelia mendadak menjadi senyap. Suara gemuruh badai di luar, napas berat Xaverius, bahkan detak jantungnya sendiri—semuanya menjauh, digantikan oleh dengung tinggi yang memekakkan telinga. "AURELIA!" Teriakan Xaverius terdengar seperti ledakan di kejauhan. Sang Kaisar berbalik dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan. Ia tidak lagi mempedulikan pertahanannya terhadap Eleanor. Tangan kirinya yang terbalut sarung tangan besi menghantam tubuh Lyra dengan kekuatan penuh, tanpa menahan diri sedikit pun. BRAKKK! Tubuh kurus Lyra terpental layaknya boneka rusak, menghantam pilar batu di sisi lain ruangan hingga pilar itu retak. Darah hitam menyembur dari mulutnya yang sudah hancur, namun tawa gila masih terdengar dari kerongkongannya. Xaverius menangkap tubuh Aureli

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 90 - Debat berdarah

    Xaverius tidak membiarkan Aurelia tenggelam dalam keputusasaan sedetik pun. Dengan gerakan kasar namun protektif, ia menarik lengan Aurelia, memaksanya bangkit berdiri. Tangan besarnya yang terbalut sarung tangan besi mencengkeram bahu Aurelia, menyalurkan kehangatan nyata yang kontras dengan dinginnya kebenaran yang baru saja terungkap. "Jangan dengarkan ocehan orang gila, Aurelia," geram Xaverius, matanya merah menyala menatap Eleanor. "Kau adalah istriku. Kau adalah Permaisuri Nocturnia. Itu satu-satunya identitas yang kau butuhkan. Peduli setan dengan wadah atau jiwa buatan!" Aurelia menatap Xaverius dengan pandangan kosong. Kata-kata Eleanor masih berdengung di kepalanya seperti lebah beracun. Aku diciptakan... bukan dilahirkan? Eleanor tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding aula yang hancur. Ia melangkah santai mengelilingi mereka, gaun merah darahnya menyeret di atas lantai berdebu, meninggalkan jejak cairan hitam. "Oh, betapa romantisnya," cibir Eleanor. "Tapi ci

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 89 - Aula takhta kelabu

    Langit-langit Aula Takhta Valeraine yang terbuka membiarkan abu hitam turun perlahan layaknya salju kematian, menutupi lantai marmer yang retak. Di tengah ruangan luas yang kini terasa seperti makam raksasa itu, angin tidak berhembus. Udara terasa mati, berat, dan dipenuhi aroma besi berkarat yang menyengat hidung. Xaverius dan Aurelia berdiri sepuluh meter dari kaki panggung takhta. Di belakang mereka, suara pertempuran di halaman luar terdengar sayup-sayup, teredam oleh dinding sihir kedap suara yang dipasang Eleanor. Di sini, hanya ada mereka bertiga—dan satu makhluk menyedihkan yang merangkak di lantai. "Bangunlah, Ibu," suara Aurelia memecah keheningan. Nadanya tidak mengandung amarah yang meledak-ledak, melainkan kelelahan dan kesedihan yang mendalam. "Pasukanmu di luar sudah hancur. Aliansi sudah mengepung benteng ini. Tidak ada jalan keluar." Eleanor, yang duduk di takhtanya yang terbuat dari tulang belulang, memiringkan kepalanya sedikit. Gerakan itu kaku, disertai bunyi

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 88 - Gempuran utama

    Parit hitam yang mengelilingi Benteng Valeraine bukanlah air. Itu adalah cairan miasma pekat—konsentrasi kejahatan murni yang telah dicairkan selama ratusan tahun. Siapa pun yang jatuh ke dalamnya tidak akan tenggelam, melainkan akan meleleh hingga ke tulang dalam hitungan detik. Lebarnya mencapai lima puluh meter, memisahkan Pasukan Aliansi dari dinding benteng yang menjulang setinggi langit, tertutup lumut hitam dan duri besi. Julian Helios menahan kudanya di tepi parit, wajahnya pucat melihat cairan bergolak itu. "Jembatan angkatnya ditarik. Kita butuh penyihir untuk membekukan ini, atau Theron bisa membuat jembatan akar..." "Terlalu lama," potong suara berat dari sampingnya. Xaverius berjalan melewati barisan depan. Zirah hitam kembarnya menyerap sedikit cahaya yang ada, membuatnya tampak seperti lubang hitam berjalan. Ia tidak membawa perisai. Ia hanya membawa pedang besarnya, Black Sun, yang diseret di tanah, menciptakan percikan api hitam setiap kali logam bertemu batu. Aur

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 87 - Perjalanan berdarah

    Tanah di wilayah Valeraine tidak seperti tanah di tempat lain. Saat sepatu bot baja Aurelia menginjak permukaannya yang hitam dan lembek, rasanya seperti menginjak daging busuk yang sudah lama mati. Tidak ada suara serangga, tidak ada desau angin yang wajar. Hanya ada keheningan absolut yang sesekali dipecahkan oleh suara mendesis dari tanah yang mengeluarkan uap beracun. Pasukan Aliansi bergerak dalam formasi tempur yang rapat. Di barisan paling depan, para Tanker Iblis dengan perisai menara mereka membuka jalan, menebas semak belukar berduri yang seolah memiliki nyawa dan mencoba melilit kaki siapa pun yang lewat. Di belakang mereka, para pemanah Elf menjaga sisi sayap dengan mata elang mereka, sementara ksatria manusia melindungi bagian tengah yang rentan. "Energi di sini..." Julian Helios bergumam, menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya. Wajahnya pucat. Bagi manusia yang kapasitas mananya terbatas, efek penyerapan mana wilayah ini sangat menyiksa. "Rasanya seperti bern

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status