Kali ini, perubahan itu justru dialami oleh Zion. Wajahnya mendadak merah, lalu memucat. Rahangnya terlihat mengeras walau tangan yang diletakkan di atas meja tetap tenang. Anne menatap Zion, merasa bersalah, lalu menggeleng cepat.“Maaf. Aku tahu ini semua salah. Maafkan aku.”“Kau tahu nama itu dari mana?”Anne menarik napas, merogoh tas, lalu menjejerkan dua foto dan satu kertas usang itu di atas meja.“Pagi ini, aku menerima sebuah paket. Tak ada nama pengirim, tapi jelas ini ditujukan padaku. Dan juga,” Anne menunjukkan pesan di ponselnya, “sebuah pesan dari orang tak dikenal. Saat aku mencoba menghubunginya, sambungannya terputus begitu saja.”Zion membaca pesan itu satu per satu. Napasnya tertahan, kedua bola matanya memerah menahan sesuatu yang tak bisa dia gambarkan. Rasa takut akan kehilangan, juga masa lalu yang begitu memenjara hidupnya selama puluhan tahun ini.Namun belum waktunya. Anne tidak boleh tahu. Jika dia tahu, maka Anne juga pasti akan meninggalkannya.“Aku tak
Read more