Anne mengangguk perlahan, tidak menyangka Summer masih mengingat kejadian itu. Rupanya ingatan Summer masih membekas terhadap kepahitan itu. Dan entah kenapa, Anne harusnya sudah tahu jawaban Summer.Tapi dia masih mencoba.“Iya,” ujar Anne pelan.Summer menunduk, menatap pancake di depannya. Dia menusuknya pelan dengan garpu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makanan di hadapannya.“Dia orang jahat,” ucapnya akhirnya, singkat namun cukup membuat Anne terkejut.“Summer …”“Aku tahu itu,” lanjut Summer, suaranya tetap lembut, namun tegas. “Kau pernah menangis karena dia. Dan Daddy …” Dia berhenti sejenak, lalu mengoreksi, “Daddy Zion tidak menyukainya. Aku juga!”Anne menatapnya, terdiam.“Dia mungkin ayah kandungku,” kata Summer lagi, kini mengangkat wajahnya. “Tapi itu cuma sekedar hubungan darah, kan? Bagaimana dengan Daddy Zion?”Anne tidak langsung menjawab. Summer menghela napas kecil seperti orang dewasa yang kelelahan.“Kalau orang menyakitimu
Baca selengkapnya