Petir makin terdengar dekat di telinganya. Esme menengadah, tangannya terulur. Desiran angin menciptakan sensasi dingin, namun hujan rupanya belum turun.Usai menerima alamat Don, Esme langsung bergegas memacu sedannya. Tak lama, dia tiba di sebuah rumah, bukan apartemen seperti miliknya. Rumah itu tidak besar, namun memiliki halaman yang luas dengan taman bunga yang tumbuh rapi dan subur.Gerbang depan tidak dikunci. Esme masuk, berjalan lambat melalui taman-taman bunga yang sedang bermekaran. Untuk sejenak, dia melupakan pipinya yang panas akibat tamparan Lynn.Don tidak di rumah, Zion juga tak tahu PIN rumah pria itu. Esme memutuskan menunggu di taman, menikmati aroma bunga yang sedikit menenangkan dirinya.Tak lama, hujan turun dengan derasnya. Esme berlari menuju teras rumah dan berdiri dekat pintu. Angin menerjang dengan sangat kencang. Ranting-ranting pepohonan di halaman meliuk-liuk.Esme memeluk dirinya yang mulai kedinginan. Petir menyambar bergantian, menciptakan terang sek
Baca selengkapnya