Sitaresmi berdiri mematung. Pakaian putih pasien yang dikenakannya terasa dingin, sekaku tangannya yang dibebat kain kasa. Di balik kaca ruang rawat, ia menatap Bas yang baru saja dipindahkan. Sosok itu tampak ringkih, namun senyum yang tersungging di bibir pucatnya terasa asing—terlalu murni, terlalu naif."Kakak ipar... aku kenapa?" suara Bas parau, serak seperti gesekan amplas. Matanya beralih ke tangan Sitaresmi yang terluka. "Tanganmu? Kenapa?"Sitaresmi tak bergeming. Ia mencari kilat kelicikan di bola mata itu, lubang kecil kebohongan yang biasa disembunyikan Bas. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang jujur."Dadaku sakit sekali," rintih Bas, merengek layaknya remaja yang mengadukan luka kecil. "Aku tidak ingat kenapa aku terluka, Kak.""Bas," suara Sitaresmi bergetar, "kamu tahu ini tahun berapa?"Bas memejamkan mata lama, keningnya berkerut dalam seolah sedang menggali sumur kering. "Aku... tidak ingat. Memang sekarang tahun berapa? Mana Damian? Apa dia masih sibu
Última actualización : 2026-04-23 Leer más