Sudah hampir sepuluh jam Sitaresmi terpaku di sisi ranjang, memerangi kantuk yang tak kunjung datang. Matanya memerah, kering karena enggan terpejam barang sedetik pun. Jemarinya yang gemetar tak berhenti mengelus punggung tangan Arion—tangan yang terasa begitu dingin dan asing, seolah nyawa putranya itu sedang bersembunyi entah di mana.Perawat dan dokter datang pergi dalam ritme yang monoton, memeriksa monitor yang menampilkan grafik naik-turun yang membosankan. Namun, bagi Sitaresmi, setiap bunyi bip adalah detak jantungnya sendiri yang dipertaruhkan. Arion masih bergeming, terjebak dalam tidur yang terlalu lelap.Sitaresmi mendekatkan bibirnya ke telinga sang putra, membisikkan doa yang terdengar seperti perintah. "Bangun, Arion," suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Menangkan pertarungan ini. Setelah itu, pergilah. Larilah sejauh mungkin dari sini, kembali ke luar negeri. Jangan pernah menoleh lagi ke lumpur ini."Cahaya fajar mulai merayap masuk, menyelinap di sela-sela tir
Last Updated : 2026-03-28 Read more