"Dengerin baik-baik, Pak Rekan. Aku nggak suka ngulang perintah dua kali. Pertama, besok pagi kamu harus pastiin Bu Sisil menang telak tanpa kendala sedikit pun," ucap Pram dengan nada rendah, sambil tetap menekan pundak Pak Rekan yang masih meringkuk di aspal dingin.Pak Rekan mengangguk cepat, wajahnya masih pucat pasi menahan perih di ulu hatinya. "I-iya, Mas Pram. Saya lakuin apa aja, tolong hapus rekamannya..."Pram mendengus sinis, matanya berkilat di bawah lampu belakang gedung karaoke yang remang. "Perintah kedua, kamu harus rahasiain pertemuan kita malam ini dari Pak Mugi. Jangan sampai ada satu kata pun bocor ke dia kalau aku sudah tahu rencana busuk kalian,” ujarnya sangat tegas.“Dan ketiga, setelah semua rangkaian sidang ini selesai, jangan pernah kamu coba-coba cari celah buat nyerang atau ngerugiin Bu Sisil lagi. Rekaman di ponsel ini adalah kartu truf-ku. Sekali aku denger kamu macem-macem, karirmu sebagai pengacara bakal jadi sejarah!""Saya janji, Mas! Saya setuju se
Last Updated : 2026-03-05 Read more