Share

130. Rasa Cemburu

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-03-05 10:50:48

"Dengerin baik-baik, Pak Rekan. Aku nggak suka ngulang perintah dua kali. Pertama, besok pagi kamu harus pastiin Bu Sisil menang telak tanpa kendala sedikit pun," ucap Pram dengan nada rendah, sambil tetap menekan pundak Pak Rekan yang masih meringkuk di aspal dingin.

Pak Rekan mengangguk cepat, wajahnya masih pucat pasi menahan perih di ulu hatinya. "I-iya, Mas Pram. Saya lakuin apa aja, tolong hapus rekamannya..."

Pram mendengus sinis, matanya berkilat di bawah lampu belakang gedung karaoke y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   389. Belum Mau Pulang

    "Ohhhh, Prammm... gedenya kebangetan! Masukin sekarang, aku udah banjir banget ini!" erang Sinar sembari memandu ujung pedang pusaka Pram menuju mulut lorong labirin miliknya yang sudah sangat licin.Sekali lesakan kuat dari Pram membuat seluruh batang senapan runduk itu menghujam masuk hingga ke dasar lembah curam Sinar. Mobil bergoyang pelan akibat momentum tersebut."Ohhhhhh... ahhhh... pas banget! Gila, kamu hebat banget, Pram!" teriak Sinar tertahan sembari mencengkeram jok mobil hingga kukunya membekas di kulit sintetis itu.Pram mulai menghentak dengan ritme yang cepat dan kasar, sesuai dengan permintaan Sinar yang liar. Suara pertemuan kulit paha mereka terdengar nyaring di dalam mobil yang kedap suara itu. Sinar terus mendesah kencang, kakinya melilit pinggang Pram agar setiap dorongan terasa lebih mentok ke dalam relungnya."Hajar terus, Pram! Jangan kasih ampun! Ahhhh... aku mau keluar... aku mau keluar!"Sinar mencapai puncaknya dengan tubuh yang mengejang kaku, kawah g

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   388. Tak Bisa Menahan Diri

    Tak lama kemudian Sinar terlihat keluar dari pintu restoran.Sinar segera masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat lincah.Gaun merah ketatnya semakin terangkat, menyingkap paha mulusnya yang jenjang hingga hampir memperlihatkan pangkal paha. Aroma saus truffle dan anggur putih sisa makan siangnya menyebar dari bibir tipisnya yang kini dipulas lipstik merah menyala. Sinar menyandarkan tubuhnya, membiarkan sepasang semangka miliknya yang ranum membusung ke depan, menekan kain gaun itu hingga tekstur puncaknya terlihat samar.Pram segera menyalakan mesin mobil. Ia merasa bisa menebak dengan sangat akurat ke mana Sinar akan mengajaknya pergi setelah ini. Pola perilaku Sinar benar-benar seperti salinan dari Cindy, seolah-olah mereka memiliki buku panduan yang sama dalam menghabiskan hari."Pram, sekarang aku mau—""Ke panti pijat," potong Pram cepat sembari memutar setir, wajahnya nampak tenang namun matanya menatap lurus ke depan dengan penuh arti.Sinar ternganga kaget, matan

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   387. Masih Wajar

    Namun, ada satu hal yang membedakannya dengan pengalaman pahit bersama Cindy. Sebelum turun tadi, Sinar sudah memberinya beberapa lembar uang ratusan ribu."Nih, buat kamu makan siang yang enak. Cari kafe di sekitar sini aja, jangan makan di pinggir jalan, nanti perutmu sakit terus nggak ada yang bisa nyetirin aku pulang," ucap Sinar tadi dengan nada yang terdengar cukup perhatian meski tetap terasa memerintah.Sangat beda dengan Cindy yang dulu membiarkannya kelaparan hingga sore hari tanpa uang sepeser pun. Pram mulai menganalisa situasi itu dalam diam. 'Sepertinya Sinar nggak sejahat yang aku bayangkan sebelumnya jika dibandingkan dengan anggota keluarga Bondan yang lain,' guman Pram.'Apa dia beneran nggak tahu ya kalau ibunya yang kemungkinan besar meracun Bu Sisil sampai lumpuh? Atau jangan-jangan... Bu Daniah juga bukan pelakunya? Siapa sebenernya dalang di balik semua kekacauan ini?' Pram kembali berkata dalam hati.Otaknya mulai bekerja keras menyusun kepingan teka-teki yan

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   386. Ada Kemiripan

    "Eh, beneran enak lho ini? Gurihnya pas, daging sapinya juga empuk banget," Sinar melotot kaget, ia segera menyuap fuyunghai yang nampak garing di luar namun lembut di dalam."Iya, kamu pinter masak, Pram. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Aku suka tekstur kwetiaunya," puji Bondan sembari mengangguk-angguk puas. Pram hanya berdiri diam di sudut ruangan dengan posisi tangan di depan, menunjukkan sikap hormat meski hatinya bergejolak melihat mereka menikmati hasil jerih payahnya di atas penderitaan Sisil.Daniah dan Andri, yang sejak awal memang kurang menyukai kehadiran Pram karena dianggap sebagai sisa-sisa 'orangnya Sisil', hanya berkata singkat tanpa ekspresi. "Lumayanlah. Setidaknya nggak bikin eneg."Mereka makan dengan lahap, menghabiskan hampir seluruh hidangan yang disajikan Pram. Begitu selesai, Bondan, Daniah, dan Andri segera beranjak dan naik ke lantai atas untuk melanjutkan urusan mereka, menyisakan Sinar yang masih duduk santai sembari meminum jus jeruknya.Sinar menata

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   385. Memasak Dulu

    Sinar tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat genit di telinga Pram. "Kamu ini ya, formal banget manggil 'Ibu'. Panggil Sinar aja kayak kemarin kenapa sih? Kan umur kita nggak beda jauh. Lagian, aku lebih suka kalau hubungan kita itu... lebih akrab."Sinar mulai memainkan ujung rambutnya, matanya menatap tajam ke arah Pram, seolah sedang menilai kekuatan di balik pakaian pelayan pria itu. Ia nampak sangat menikmati kecanggungan Pram."Tugas pertama kamu pagi ini gampang kok. Kamu cuma perlu memastikan aku merasa nyaman di rumah ini," bisik Sinar sembari menatap dalam ke arah mata Pram, senyum nakalnya nampak semakin lebar.Pram menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul arah pembicaraan itu. "Maksud kamu... kenyamanan rumah ini secara keseluruhan?""Nggak usah pura-pura polos, Pram. Kamu tahu persis apa yang aku mau," jawab Sinar sembari berdiri dan melangkah mendekati Pram, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti saja.Pram merasakan panas tubuh Sina

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   384. Rentetan Tugas

    Pagi yang ditunggu pun tiba. Udara masih terasa dingin dan embun masih menempel di dedaunan saat Pram bersiap-siap. Kali ini, ia tidak membawa mobil Mini Cooper-nya agar tidak mencolok dan memancing kecurigaan keluarga Bondan. Ia lebih memilih naik ojek motor menuju kawasan rumah megah milik Sisil yang kini telah berpindah tangan secara paksa itu.Sesampainya di sana, Pram tidak langsung masuk ke gerbang utama. Ia justru masuk ke rumah kecilnya dulu yang berada tepat di sebelah rumah megah itu. Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Di sana, ia mengeluarkan motor matik tuanya yang sudah agak berdebu. Dengan motor itulah ia meluncur pelan menuju gerbang rumah megah Sisil.Pram memarkirkan motornya di area parkir samping. Ia menarik napas dalam, merapikan sejenak pakaiannya, lalu melangkah menuju pintu samping."Udah dateng kamu, Pram?! Baguslah, setidaknya kamu nggak bikin kami nunggu lama," sapa Daniah datar. Wanita tua itu sedang berdiri di koridor tengah de

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   151. Suasana Baru

    "Aduh, maaf ya, Bu Sisil. Tadi itu Bunga beli es krim pas di jalan, terus pas saya ngerem mendadak es krimnya jatuh kena jok. Makanya dia tadi buru-buru masuk karena takut diomelin," ujar Pram sambil memasang wajah menyesal yang paling meyakinkan, padahal jantungnya berdegup kencang karena aroma

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   132. Kerja Rodi

    "Aku nggak mau tahu alasannya. Kamu nggak usah membela diri lagi! Pokoknya, Mas Pram, hari ini bener-bener nyebelin!" ketus Sisil sambil menghentakkan kakinya ke lantai teras.Sisil langsung berdiri dengan gerakan sewot, mengabaikan wajah Pram yang melongo dan serba salah. Ia melangkah masuk ke da

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   114. Pengalaman Hidup

    "Mas Wawan jangan mudah percaya aja dong sama hasutan busuk pelayan rendahan ini! Dia cuma mau ngadu domba kita!" teriak Cindy dengan nada melengking, wajahnya yang cantik kini nampak pucat pasi.Wawan hendak membuka mulut untuk membantah, menuntut penjelasan lebih lanjut, namun Cindy tidak memberi

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   110. Aku Butuh Kamu Lagi Secepatnya!

    "Mas Pram, ini kacau banget! Ada pertengkaran ronde baru di sini. Tante Cindy sama Tari lagi adu mulut parah banget di ruang tengah!" seru Dara dari seberang telepon, suaranya terdengar panik bercampur geram.Pram segera menekan tombol loudspeaker agar Sisil yang masih bersandar di bahunya bisa iku

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status