Pram tersenyum tipis, ia menahan bahu Tari dan memberikan kecupan di kening gadis itu. "Sabar, Sayang. Kita masih punya sembilan puluh hari lagi di sini buat berpuas-puas. Mas harus jaga stamina, inget kan kakiku ini masih patah? Kalau dipaksa terus sekarang, yang ada nanti malah makin lama sembuhnya."Tari merengut sedikit kecewa, namun ia akhirnya mengangguk. "Ya udah deh. Tapi bener ya, besok-besok harus lebih banyak!""Iya, janji. Sekarang kita cari makan dulu yuk, perutku sudah keroncongan," ajak Pram.Mereka pun berpakaian kembali. Pram mengajak Tari keluar rumah menuju area belakang yang nampak seperti kebun yang sudah lama tidak terurus. Tanahnya sangat subur namun dipenuhi rumput liar. Dengan menggunakan bantuan tongkatnya, Pram menunjuk ke arah tanah yang sedikit gembung."Tolong bantuin Mas gali di situ, Tar. Biasanya di situ ada ubi cilembu yang ditanam kakek dulu. Meskipun nggak diurus, mereka tetap tumbuh tunas di sana-sini," perintah Pram.Tari menurut, ia berjongko
Ler mais