"Biar aku lihat dulu, Tar. Kamu di sini aja jangan ke mana-mana," ujar Pram dengan suara yang masih agak tegang. Ia segera meraih handuk yang tersampir di dekat ranjang, melilitkannya dengan cepat ke pinggang untuk menutupi mercusuarnya yang masih nampak gagah.Menggunakan tongkat ketiaknya, Pram bergegas tertatih menuju arah dapur, tempat suara dentuman keras itu berasal. Tari yang tidak mau ditinggal sendirian dalam kegelapan dan rasa takut, segera menyambar selimut tebal mereka. Ia melilitkan kain itu ke tubuh polosnya, menutupi bukit barisan dan bulatan belakangnya, lalu mengikuti langkah Pram dari belakang dengan langkah cepat.Sesampainya di dapur, Pram menyorotkan senter kecil ke arah atap dan sudut-sudut ruangan. Semuanya nampak normal, hingga ia memutuskan untuk membuka pintu belakang dapur yang menghadap langsung ke arah ladang dan pepohonan rimbun. Namun, baru saja satu langkah kakinya melewati ambang pintu, Pram tersandung sebuah benda bulat yang cukup keras."Aduh!"
Baca selengkapnya