"Kita ikuti aja alurnya dulu sekarang, Mas, biar besok semuanya jelas di kantor pengacara Buan," kata Sisil sembari menepuk pelan pundak Pram di akhir malam itu, mencoba menenangkan debaran di dada mereka masing-masing sebelum beristirahat.Keesokan harinya, Pram, Sisil, dan tiga putri angkat Sisil menemui pengacara Buan di kantor hukumnya yang terletak di pusat kota. Mereka berlima duduk berjejer di kursi sofa kulit mewah yang empuk, berhadapan langsung dengan seorang pria berusia 40 tahunan, berkacamata, dan nampak sangat rapi dengan setelan jas hitamnya.Pram menunjukkan kain wasiat itu pada sang pengacara, membentangkannya di atas meja kaca besar yang memisahkan posisi duduk mereka.Pak Buan membetulkan letak kacamata minusnya, lalu mengamati lembaran kain kanvas tebal itu dengan seksama selama beberapa menit. Guratan wajahnya yang semula tenang mendadak berubah menjadi sangat serius, matanya membelalak kecil menatap tanda tangan asli dari ayah Pram."Berarti ini yang dipesankan
Baca selengkapnya