"Ya sudah, tapi belinya saat pulang saja. Saya sudah terlanjur rapi dengan kemeja ini," kata Pram sembari merapikan kembali lipatan lengan kemejanya yang membungkus otot lengannya yang kekar dan kokoh.Sisil menatap penampilan Pram dari atas sampai bawah dengan binar mata yang terpesona.Kemeja biru muda itu melekat ketat di tubuh bidang Pram, mencetak jelas bentuk dada bidangnya yang tegap. Sisa kehangatan semalam seolah masih membekas di antara mereka, membuat Sisil sempat melirik ke arah bawah Pram yang nampak padat berisi di balik celana kainnya."Boleh, Mas," kata Sisil mengangguk patuh sembari memberikan senyuman paling manisnya.Mereka pun segera turun dan bergabung dengan yang lain untuk sarapan.Di meja makan, hidangan nasi goreng buatan Bi Surti sudah tersaji hangat. Dara, Intan, dan Bunga sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Begitu Pram melangkah masuk ke ruang makan, pandangan ketiga gadis muda itu langsung tertuju padanya tanpa berkedip."Wihhh, Mas Pram keren ama
Ler mais