Pram tersenyum. “Kayak nggak ada hari lain aja, Sil?! Anak-anak kamu kan juga butuh hiburan biar nggak suntuk di rumah mulu," sahut Pram sembari mencolek dagu mulus Sisil dengan nakal, membuat wanita matang tiga puluh lima tahun itu tersenyum manja.Sisil merapatkan gundukan sepasang semangka besarnya yang ranum ke lengan kekar Pram, menikmati kehangatan otot pria sawo matang di sebelahnya tanpa kekangan kain penyangga dada di balik gaun terusan bunga-bunganya."Ya udah deh, Mas. Kamu bener, kasihan juga mereka kalau ditinggal sendirian di rumah," kata Sisil mengalah dengan nada suara parau yang patuh."Bu Sisil, Mas Pram. Makan malam sudah siap!" Bi Surti datang melaporkan dari arah pintu dapur belakang.Janda muda berlesung pipit dan bergigi gingsul itu berdiri tegak dengan daster batik longgarnya yang bergerak halus ditiup angin sore, menonjolkan bentuk sepasang timun suri miliknya yang menggantung bebas di dalam kain.Pram mengangguk. “Eh iya, terima kasih, Bi. Aku juga udah laper
Baca selengkapnya