เข้าสู่ระบบSebuah notifikasi berkedip di pandanganku.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: BERKAS DIGITAL BERHASIL DIAMBIL. SIAP DITRANSFER]
[PILIH PERANGKAT PENYIMPANAN]
Aku berpikir sejenak, tatapanku jatuh pada ponsel Android lamaku di saku. Layarnya retak seribu, bodinya baret di sana-sini, tapi itu satu-satunya perangkat yang kupunya. Dalam hati, aku membayangkan tumpukan data curian itu merayap masuk ke dalam ponsel bobrokku.
[PERANGKAT TERDETEKSI: PONSEL ANDROID SAMSUNG GALAXY ACE 3. VERSI OS: JADUL. KAPASITAS MEMORI: MINIM. REKOMENDASI: PERLUAS KONEKSI MEMORI INTERNAL DENGAN USB HOST]
[MASUKKAN TELUNJUK KE PORT USB UNTUK SINKRONISASI DATA]
Aku menarik ponsel keluar, menatap lubang kecil tempat kabel pengisi daya biasa masuk. Telunjukku bergetar saat aku menempelkannya ke sana. Rasanya aneh, menggelikan, seperti ada semut-semut listrik merayapi ujung jariku. Sebuah sensasi dingin menjalar dari sana, menembus kulit, terus naik ke lenganku.
[TRANSFER DATA SEDANG BERLANGSUNG...]
[10%... 30%... 70%... 100%]
[TRANSFER DATA SELESAI. SILAKAN CEK GALERI ATAU FILE MANAGER ANDA]
Aku menarik telunjukku, ponsel itu masih terasa hangat. Layarnya menyala, di sana terlihat folder baru dengan nama yang aneh: `SYSTEM_REVENGE_DATA`. Aku membukanya. Deretan dokumen, foto, dan video terhampar di sana. Semuanya nyata. Bukan halusinasi.
Jantungku berdebar semakin cepat. Kacamata yang entah bagaimana menyatu dengan wajahku kini terasa seperti bagian dari diriku, memberikan kekuatan yang sebelumnya tak pernah kumiliki.
"Jadi ini rasanya..." gumamku, suaraku serak.
Aku melangkah keluar dari gudang arsip. Koridor yang tadi kuanggap sebagai lorong neraka, kini terasa seperti panggung pertunjukan. Setiap langkahku terasa lebih mantap, lebih pasti.
Aku bukan lagi Bejo yang kerempeng, yang lugu dan mudah ditindas. Aku adalah Bejo, si pemilik sistem.
Kantor Nadia.
Pintu kaca buram itu terasa dingin di telapak tanganku. Sedikit keraguan menyelinap, apakah ini akan berhasil? Atau aku hanya akan kembali menjadi bahan tertawaan? Tapi tatapan nenek yang tersenyum muncul di benakku, dan kemarahan itu kembali membakar.
Aku mendorong pintu, melangkah masuk. Nadia mengangkat kepalanya dari layar monitor, sorot matanya yang tajam langsung menembusku. Wajahnya mengeras, kerutan di dahinya semakin dalam.
"Mau apa lagi kamu?! Tidak puas membuat saya malu di koridor tadi?!" Suaranya menusuk, dipenuhi kemarahan yang membara.
Aku tidak menjawab. Aku hanya melangkah maju, mendekatinya. Setiap langkahku disengaja, setiap gerakan diukur. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung tak lagi membuatku terintimidasi.
"Jawab saya, Bejo! Jangan diam saja seperti patung bodoh!" Nadia menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya melonjak.
Aku berhenti tepat di depan mejanya, menatap matanya tanpa gentar. Aku mengeluarkan ponsel bobrokku, meletakkannya di atas mejanya yang rapi. Layar retak itu memantulkan cahaya lampu.
"Anda ingin tahu apa urusan saya?" Aku tersenyum tipis, senyum yang terasa asing di wajahku sendiri. "Saya hanya ingin mengingatkan Anda tentang beberapa transaksi mencurigakan, Bu."
Nadia mengerutkan kening. "Transaksi apa? Kamu ini bicara apa, sih?!"
"Begini, Bu." Aku memiringkan kepala.
"Apakah Anda ingat tentang pengadaan fiktif jasa konsultan IT senilai seratus juta rupiah bulan lalu? Atau tentang faktur ganda untuk suplai alat tulis kantor yang angkanya membengkak tiga kali lipat? Belum lagi aliran dana ke rekening pribadi atas nama 'Budi Santoso' yang kebetulan adalah nama samaran Anda di sebuah forum judi online."
Seketika, ekspresi Nadia berubah. Dari marah menjadi terkejut, lalu panik. Pupil matanya melebar, napasnya tertahan. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Ba... bagaimana kamu tahu..." Gumamnya, suaranya tercekat.
"Bagaimana saya tahu?" Aku menghela napas, pura-pura berpikir. "Oh, itu bukan masalah besar. Sistem saya cukup canggih. Dia tidak hanya melihat tumpukan sampah atau air kotor, tapi juga melihat tumpukan uang kotor yang Anda sembunyikan."
Wajah Nadia memucat pasi. Warna merah di bibirnya seolah luntur, menyisakan gurat-gurat pucat. Matanya melirik ke arah pintu, lalu kembali padaku. Dia berusaha menyembunyikan getaran di tangannya, tapi aku bisa melihatnya.
"Bejo!" Teriakannya memekakkan telinga, suaranya pecah, lebih karena ketakutan daripada kemarahan.
Aku memejamkan mata, menunggu tamparan atau omelan yang lebih parah. Namun, yang kudengar hanyalah keheningan yang mencekam. Tidak ada lagi gedoran meja, tidak ada suara denting pena. Hanya desauan AC yang mengisi ruangan.
Perlahan, aku membuka mataku.
Nadia berdiri terpaku di tempatnya, seperti patung es. Wajahnya benar-benar kehilangan warna, bibirnya bergetar tanpa suara.
Matanya yang tadi menatapku penuh amarah kini dipenuhi kengerian yang dalam. Dia menghela napas panjang, napas yang terdengar berat dan tersendat.
Tanpa berkata apa-apa, Nadia berjalan melewati mejanya, melangkah di sampingku. Aku mengira dia akan mengusirku, menamparku, atau mungkin memanggil sekuriti.
Tapi dia hanya berjalan tenang, mengabaikanku sepenuhnya.
Tangannya terulur ke pintu, menutupnya perlahan. Suara 'klik' kunci terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Lalu, dengan gerakan cepat, dia menarik tali gorden krei, satu per satu, menutupi kaca tembus pandang yang membatasi ruangannya dengan kubikel karyawan.
Ruangan itu kini terasa lebih kecil, lebih sesak. Kami berdua terisolasi, hanya ada aku dan dia.
Nadia berbalik, menatapku dengan mata yang sekarang terlihat kosong. Ketakutan itu masih ada, namun diselimuti oleh sesuatu yang lain. Kacamata di wajahku berkedip, menampilkan notifikasi.
[STATUS TARGET NADIA: TERANCAM (95%). KECENDERUNGAN UNTUK NEGOSIASI TINGGI. WASPADA MANIPULASI]
[MISI UTAMA: BALAS DENDAM PADA NADIA. PROGRES: 10%]
"Apa... apa maksudmu dengan 'sistem'?" Nadia akhirnya menemukan suaranya, meski bergetar seperti dawai gitar yang kendur. Dia melangkah mundur, tangannya meremas ujung blus sutranya.
"Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Bejo. Itu... itu semua hanya karangan. Delusi karena kamu lelah dan berduka."
"Delusi?" Aku mengambil langkah maju, mendekat, memaksa Nadia untuk mundur hingga punggungnya membentur meja kerjanya. Aroma parfum mahalnya yang tadinya mencekik, kini bercampur dengan bau ketakutan.
"Apakah delusi bisa menampilkan tanggal, jam, nominal, nama vendor fiktif, sampai nama samaran Anda di akun judi online dengan begitu rinci, Bu?"
Matanya bergerak gelisah, mencari celah, jalan keluar. Bibirnya terbuka lagi, tapi yang keluar hanyalah desahan putus asa.
"Bejo, dengar..." suaranya kini lebih rendah, lebih memohon, mencoba menarik simpati.
"Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dengan ini. Orang-orang tidak akan percaya. Mereka akan menertawakanmu. Seorang OB yang berhalusinasi menuduh manajer HRD. Siapa yang akan percaya?"
Dia berusaha tersenyum, senyum yang jelas terlihat dipaksakan, mengkhianati kengerian di balik matanya.
Aku diam, membiarkannya bergelut dengan kepanikannya sendiri. Kacamata di wajahku berkedip, menampilkan data psikologis Nadia:
[Kecenderungan Berbohong: 99%. Tingkat Kepanikan: Maksimal. Sedang Mencari Alibi/Jalan Keluar].
Informasi itu memberiku keuntungan. Aku tahu setiap gerak-gerik dan pikirannya.
"Kamu pikir saya akan diam saja dengan semua tuduhan konyol ini?" Nadia mengangkat dagunya sedikit, berusaha membangun kembali tembok arogansinya.
"Kamu bisa gila sendiri dengan temuan kamu itu, tapi tidak akan ada yang peduli. Apalagi data yang kamu dapatkan entah dari mana itu."
"Benarkah?" Aku mengangkat ponsel lamaku. Layarnya yang retak bersinar remang-remang di ruangan yang tertutup gorden ini. "Bagaimana jika saya tidak perlu membuat orang lain percaya dengan kata-kata, Bu?"
Nadia menatap ponsel itu, lalu kembali padaku. Ada kilatan kekhawatiran yang lebih dalam di matanya.
"Ini bukan hanya omong kosong, Bu Nadia." Aku menunjuk layar ponselku dengan ibu jari.
"Di sini, ada semua. Setiap transaksi, setiap tanda tangan palsu, setiap transfer. Bahkan ada rekaman suara Anda saat berbicara dengan seseorang tentang 'proyek sampingan' ini. Lengkap dengan detail kapan dan di mana uang itu ditransfer, ke rekening siapa."
Senyum angkuhnya menguap, digantikan oleh kerutan tegang di seluruh wajahnya. Dia menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun.
"Bagaimana jika, Bu," lanjutku, suaraku tetap tenang, setenang dan sedingin es yang baru pecah, "Saya mencetak semua lembaran temuan yang telah ditandai dengan rapi oleh 'sistem' saya ini, dan menempelkannya di seluruh papan pengumuman kantor? Atau mungkin, saya kirimkan anonim ke setiap email direksi?"
Nadia tersentak, wajahnya semakin pucat, seperti baru saja melihat hantu. Dia menatapku, matanya memohon, ketakutan telanjang terpancar jelas dari balik lensa kacamatanya yang mewah.
Kakinya mundur satu langkah lagi, tubuhnya sedikit gemetar.
"Kamu... kamu tidak akan berani melakukan itu," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. Namun, ada nada putus asa yang tak bisa disembunyikan.
"Berani?" Aku tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mataku.
"Apa yang bisa saya rugikan, Bu? Nenek saya meninggal hari ini, satu-satunya keluarga yang saya punya. Anda tidak memberi saya izin untuk menguburkannya. Anda menghina saya, menginjak harga diri saya di depan semua orang."
Aku melangkah maju lagi, kali ini Nadia tidak bisa mundur karena sudah mentok ke mejanya. Tatapanku terpaku padanya, tidak berkedip.
"Apa yang bisa Anda tawarkan, Bu Nadia, agar saya bersedia menyimpan semua rahasia kotor Anda di tempat yang aman dan terlindungi?"
Nadia menatapku, matanya menyiratkan kepanikan yang teramat sangat. Bibirnya terbuka dan tertutup, mencoba merangkai kata, namun tak ada suara yang keluar.
Dia seperti ikan yang terdampar, megap-megap kehabisan udara. Kemeja putihnya yang mahal kini terlihat kusut, kerah lehernya sedikit terbuka, memperlihatkan sedikit kulit lehernya yang mulus.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: KESEMPATAN MANIPULASI TINGGI. SASARAN SEDANG MENCARI JALAN KELUAR.]
Kacamata itu berkedip lagi, membimbingku. Aku tidak perlu memikirkan kata-kata. Sistem kacamata ini seolah-olah berbicara untukku, menggunakan suaraku untuk melancarkan trik-trik manipulasi.
"Satu jam yang lalu," aku melanjutkan, "Anda bilang saya cuma alat. Makhluk kerempeng. Bodoh. OB yang tidak berguna. Kini, alat ini punya daya tawar, Bu. Coba tebak, berapa harga kepala Anda di pasar gelap integritas korporat?"
Nadia terhuyung, tangannya memegang tepi meja, mencari tumpuan.
"Berapa... berapa yang kamu mau, Bejo?"
Suaranya serak, penuh keputusasaan. Semua arogansi yang tadi pagi terpancar darinya kini telah lenyap, digantikan oleh kerapuhan yang menyedihkan.
Wanita berkuasa ini, yang tadi pagi dengan mudah mengancam memecatku, kini berada di ujung tanduk, di hadapan seorang OB yang baru kehilangan neneknya.
"Uang?" Aku mengangkat alis.
"Uang bisa habis, Bu Nadia. Apalagi uang hasil korupsi seperti yang Anda kumpulkan."
Matanya memicing, seolah mencoba membaca pikiranku, namun hanya ada kegelapan di sana.
"Saya menginginkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar uang."
Aku melangkah semakin dekat, hingga ujung sepatuku menyentuh ujung stiletto merah miliknya yang tadi pagi basah oleh air kotor. Aroma parfum mahalnya yang tadi menusuk kini terasa manis, bercampur dengan feromon ketakutan yang samar.
Nadia menatapku dengan tatapan kosong, menunggu vonis.
"Saya ingin Anda merasakan apa yang saya rasakan, Bu."
Wajahnya semakin tegang, seperti ditarik dari dalam. Dia tahu. Dia pasti tahu apa yang kupikirkan.
Ketakutan itu menjalar dari matanya ke seluruh tubuhnya, merayap di bawah kulit, terlihat dari bagaimana bahunya sedikit terangkat. Udara di ruangan itu terasa tebal, dipenuhi ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau.
"Apa..."
"Saya tidak akan memecat Anda, Bu Nadia." Aku memotongnya, "Atau melaporkan Anda. Tidak sekarang."
Nadia menatapku, seolah ingin menemukan secercah harapan di mataku.
"Saya akan melindungi Anda. Dari direksi, dari audit, dari siapapun yang mencoba membongkar semua kecurangan ini."
Alis Nadia terangkat sedikit, kerutan di dahinya mulai mengendur, ada secercah kelegaan yang melewati wajahnya, walau sesaat.
"Dengan satu syarat."
Kelegaan itu lenyap, digantikan oleh kecurigaan. Bibirnya bergetar.
"Apa syaratnya, Bejo?"
"Sangat sederhana, Bu Nadia,"
Aku melangkah mendekat lagi, mencondongkan tubuhku hingga bayanganku menaungi wajahnya. Aroma nafasnya yang mint terasa dingin di kulitku.
"Mulai sekarang, Anda harus menuruti semua perintah saya."
Guncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket."Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."Nadia mendesis. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dia melirik navigasi di layar sentuh besar yang terpasang di tengah kabin."Navigasinya bilang kita sudah masuk wilayah desa yang kamu tandai. Sekarang ke mana? Aku tidak mau tersesat di tengah hutan ini."Aku mengucek mata, mengusir sisa kantuk yang menggelayut. Di luar jendela, kegelapan pekat menelan segalanya. Hanya sorot lampu LED mobil yang membelah jalanan aspal sempit yang mulai berlubang. Pohon-pohon jati berdiri kaku di kanan-kiri jalan seperti barisan raksasa yang mengawasi kami."Lurus saja. Nanti ada jembatan kecil, belok kanan ke jalan tanah."Nadia mengerem mendadak saat roda depan menghantam lubang. Dia mengerang, memuku
Debu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.Tik. Tik. Tik.Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.[MODE STEALTH: NONAKTIF]"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]Aku melepa
Nadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam."Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorong
Sebuah notifikasi berkedip di pandanganku.[PEMBERITAHUAN SISTEM: BERKAS DIGITAL BERHASIL DIAMBIL. SIAP DITRANSFER][PILIH PERANGKAT PENYIMPANAN]Aku berpikir sejenak, tatapanku jatuh pada ponsel Android lamaku di saku. Layarnya retak seribu, bodinya baret di sana-sini, tapi itu satu-satunya perangkat yang kupunya. Dalam hati, aku membayangkan tumpukan data curian itu merayap masuk ke dalam ponsel bobrokku.[PERANGKAT TERDETEKSI: PONSEL ANDROID SAMSUNG GALAXY ACE 3. VERSI OS: JADUL. KAPASITAS MEMORI: MINIM. REKOMENDASI: PERLUAS KONEKSI MEMORI INTERNAL DENGAN USB HOST][MASUKKAN TELUNJUK KE PORT USB UNTUK SINKRONISASI DATA]Aku menarik ponsel keluar, menatap lubang kecil tempat kabel pengisi daya biasa masuk. Telunjukku bergetar saat aku menempelkannya ke sana. Rasanya aneh, menggelikan, seperti ada semut-semut listrik merayapi ujung jariku. Sebuah sensasi dingin menjalar dari sana, menembus kulit, terus naik ke lenganku.[TRANSFER DATA SEDANG BERLANGSUNG...][10%... 30%... 70%... 100%
Getaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu."Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini."Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memand







