MasukDebu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.
Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.
Tik. Tik. Tik.
Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.
[MODE STEALTH: NONAKTIF]
"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"
Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.
[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]
Aku melepaskannya perlahan. Benda ini terasa asing, materialnya tidak seperti plastik atau logam yang pernah kusentuh. Begitu kacamata itu lepas dari wajahku, ia tetap padat di tanganku.
Aku membolak-baliknya di bawah cahaya lampu. Tidak ada bekas sambungan, tidak ada sekrup. Ini bukan barang buatan manusia biasa.
"Siapa yang meninggalkanmu di sini?"
Pertanyaanku hanya dijawab oleh keheningan gudang yang pengap. Aku kembali mengetuk pipi, dan kacamata itu menghilang dari genggaman, terserap kembali ke dalam saraf-saraf wajahku.
Rasanya aneh, tapi sekaligus memberiku rasa aman yang belum pernah kurasakan.
Getaran di saku celana mengejutkanku. Aku merogoh ponsel Android-ku yang layarnya sudah seperti peta pecah seribu. Nama 'Pak RT' berkedip di sana. Jantungku mencelos, rasa bersalah tiba-tiba menghimpit dada.
"Halo, gimana Pak RT?"
"Kamu di mana sekarang Jo?"
Suara Pak RT terdengar parau, ada keriuhan samar di latar belakangnya—suara piring yang bersentuhan dan gumaman orang banyak. Aku memejamkan mata, membayangkan rumah kayu nenek yang kini pasti dipenuhi tetangga.
"Saya... saya masih di kota, Pak. Maafkan saya. Tadi ada urusan mendesak di kantor."
Ada jeda panjang di seberang telepon. Aku menggigit bibir bawah, menunggu amarah atau teguran karena aku tidak segera pulang.
"Jangan dipikirkan lagi, Jo. Nenekmu sudah tenang."
"Maksud Bapak?"
"Tadi siang warga sepakat untuk langsung memakamkannya. Kami tidak tega membiarkan jenazahnya menunggu terlalu lama, apalagi cuaca sedang panas sekali. Kami coba hubungi kamu berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif."
Aku terpaku. Rasa sesak di dadaku perlahan mencair, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa hingga mataku terasa panas.
"Sudah... sudah dikuburkan, Pak?"
"Sudah, Jo. Di samping makam kakekmu, seperti permintaannya dulu. Semuanya berjalan lancar. Ibu-ibu di sini juga sudah menyiapkan pengajian untuk nanti malam. Kamu tahu sendiri, nenekmu itu orang baik. Semua orang di desa merasa kehilangan."
"Terima kasih banyak, Pak RT. Saya benar-benar... saya tidak tahu harus bicara apa. Biaya pemakamannya..."
"Ssst, diam dulu. Warga patungan, Jo. Ada juga simpanan nenekmu yang dia titipkan di kas desa. Kamu pulang saja pelan-pelan. Tidak perlu ngebut. Urus semua di sana sampai beres."
Aku mengusap sudut mataku dengan punggung tangan yang kasar.
"Saya akan pulang malam ini, Pak. Mungkin sampai sana tengah malam."
"Iya, hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai desa."
Sambungan terputus. Aku menatap layar ponsel yang gelap, lalu menyandarkan kepala ke dinding semen yang dingin. Beban berat yang tadi pagi seolah ingin mematahkan tulang punggungku kini terangkat.
Nenek sudah tenang. Dia sudah dikuburkan dengan layak oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Terima kasih, Nek. Maafkan Bejo."
Langkah kaki terdengar dari balik pintu besi gudang. Suara stiletto yang beradu dengan lantai semen terdengar berirama, semakin lama semakin dekat. Aku berdiri tegak, merapikan seragam OB-ku yang masih menyisakan bau karbol.
Pintu terbuka dengan decitan yang menyayat telinga. Nadia berdiri di sana. Matanya masih sembab, namun dia sudah mencoba memoles wajahnya dengan bedak tebal. Dia membawa sebuah tas kulit mahal dan kunci mobil di tangannya.
"Semuanya sudah siap?"
Suara Nadia datar, hampir menyerupai robot. Dia tidak berani menatap langsung ke mataku.
"Mobil sudah di basement?"
Nadia mengangguk pelan. Dia meremas tali tasnya, seolah benda itu adalah pelampung di tengah badai.
"Di sudut terjauh, seperti yang kamu minta. Tidak ada yang melihat saya turun."
"Bagus. Ingat, Bu Nadia, sekali saja Anda mencoba melakukan gerakan tambahan..."
"Saya tahu!" Nadia memotong dengan nada tinggi yang kemudian langsung meluruh. "Saya tahu posisinya, Bejo. Saya tidak akan berani. Mari pergi sekarang sebelum ada orang lain yang datang ke sini."
Aku melangkah maju, melewati Nadia yang masih berdiri kaku di ambang pintu. Aroma parfumnya yang manis kini terasa hambar. Aku berhenti tepat di sampingnya, mencondongkan tubuh sedikit ke arah telinganya.
"Jalan di depan saya. Dan jangan lupa tersenyum kalau kita berpapasan dengan sekuriti."
Nadia menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. Dia menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya yang layu, lalu mulai berjalan di depanku.
Aku mengikutinya dari belakang, menjaga jarak layaknya seorang bawahan yang patuh, meski di balik kacamata tak kasat mata ini, aku sedang mengamati setiap detak jantungnya yang tidak beraturan.
Basement yang remang-remang itu hanya dihuni oleh deru mesin AC pusat dan aroma bensin yang samar. Kami masuk ke dalam mobil SUV hitam miliknya tanpa sepatah kata pun.
Nadia duduk di belakang kemudi, tangannya yang terawat dengan manikur sempurna tampak gemetar saat memutar kunci kontak. Aku memilih duduk di baris kedua, tepat di belakang kursi penumpang depan, menciptakan jarak yang cukup jauh sekaligus menegaskan siapa yang memegang kendali.
Begitu mobil meluncur keluar dari gedung kantor dan membelah kemacetan kota yang mulai menyala oleh lampu-lampu jalan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin.
Nadia tetap bungkam, matanya terpaku lurus ke depan seolah-olah setir mobil itu adalah satu-satunya hal yang bisa menahannya agar tidak runtuh. Aku menyandarkan kepala pada kaca jendela, menatap deretan toko dan gedung pencakar langit yang perlahan menjauh.
"Haha.."
Sebuah tawa kecil, hampir seperti gumaman miris, tiba-tiba lepas dari tenggorokanku. Aku melihat pantulan diriku di kaca; seorang OB kurus dengan seragam lusuh, kini sedang disupiri oleh seorang manajer HRD yang biasanya dipuja-puja di kantor.
Kontras ini terasa begitu gila, begitu absurd hingga terasa seperti mimpi buruk yang berubah menjadi komedi gelap.
"Ada yang lucu?" Nadia mendengus, suaranya tajam meski diselingi getaran ketakutan. Dia menatapku sekilas melalui spion tengah, matanya memicing penuh kejijikan.
"Lucu? Tentu saja lucu, Bu Nadia," balasku, membiarkan nada mengejek merayapi suaraku. "Betapa cepatnya takdir bisa berputar, bukan? Pagi ini, Anda mengancam memecat saya karena berduka. Sore ini, Anda menjadi sopir pribadi saya. Ini seperti film dark comedy yang sangat saya suka."
Nadia mengeratkan pegangan pada kemudi, buku-buku jarinya memutih. Dia tidak menjawab, hanya menghela napas panjang yang terdengar berat. Udara di dalam mobil terasa semakin tebal, dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa kurasakan di kulitku.
"Kamu pikir kamu hebat dengan ini?" Nadia akhirnya memecah keheningan, suaranya kini lebih rendah, lebih berbahaya. "Kamu pikir ini kemenangan?"
Aku terkekeh, menggelengkan kepala. "Kemenangan? Oh, belum. Ini baru permulaan, Bu Nadia. Permulaan yang sangat, sangat menarik."
Aku mencondongkan tubuh sedikit, suaraku ikut merendah, "Tahukah Anda, Bu, ada kepuasan tertentu saat melihat orang yang begitu angkuh merangkak di kaki Anda? Kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang."
Nadia menekan pedal gas, mobil melaju semakin cepat, seolah ingin melarikan diri dari percakapan ini. Kilatan lampu kota melewati wajahnya yang tegang.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Bejo?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik, diselimuti rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan. "Apa yang kamu inginkan dariku?"
"Apa yang saya inginkan?" Aku menyandarkan punggung lagi, menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. "Saya ingin Anda menjadi cermin bagi saya, Bu Nadia. Cermin yang memantulkan setiap arogansi, setiap penghinaan, setiap perlakuan buruk yang pernah Anda berikan kepada orang lain."
Nadia menoleh, matanya mencariku di spion tengah, ekspresinya tidak terbaca.
"Saya ingin Anda merasakan bagaimana rasanya menjadi yang terendah, yang tidak berdaya," lanjutku, "Bagaimana rasanya hidup hanya untuk melayani orang lain. Dan saya ingin Anda melakukannya dengan senyum di wajah Anda."
Keheningan kembali menyelimuti kabin, kali ini lebih berat, lebih pekat. Hanya suara deru mesin mobil yang memecah kesunyian. Nadia tidak menjawab, tapi aku bisa melihat tangannya gemetar di setir, menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.
Dia tahu, ini bukan hanya tentang perjalanan ke kampung, ini adalah perjalanan ke neraka pribadinya, dan aku adalah iblis yang akan memandu jalannya.
Guncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket."Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."Nadia mendesis. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dia melirik navigasi di layar sentuh besar yang terpasang di tengah kabin."Navigasinya bilang kita sudah masuk wilayah desa yang kamu tandai. Sekarang ke mana? Aku tidak mau tersesat di tengah hutan ini."Aku mengucek mata, mengusir sisa kantuk yang menggelayut. Di luar jendela, kegelapan pekat menelan segalanya. Hanya sorot lampu LED mobil yang membelah jalanan aspal sempit yang mulai berlubang. Pohon-pohon jati berdiri kaku di kanan-kiri jalan seperti barisan raksasa yang mengawasi kami."Lurus saja. Nanti ada jembatan kecil, belok kanan ke jalan tanah."Nadia mengerem mendadak saat roda depan menghantam lubang. Dia mengerang, memuku
Debu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.Tik. Tik. Tik.Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.[MODE STEALTH: NONAKTIF]"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]Aku melepa
Nadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam."Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorong
Sebuah notifikasi berkedip di pandanganku.[PEMBERITAHUAN SISTEM: BERKAS DIGITAL BERHASIL DIAMBIL. SIAP DITRANSFER][PILIH PERANGKAT PENYIMPANAN]Aku berpikir sejenak, tatapanku jatuh pada ponsel Android lamaku di saku. Layarnya retak seribu, bodinya baret di sana-sini, tapi itu satu-satunya perangkat yang kupunya. Dalam hati, aku membayangkan tumpukan data curian itu merayap masuk ke dalam ponsel bobrokku.[PERANGKAT TERDETEKSI: PONSEL ANDROID SAMSUNG GALAXY ACE 3. VERSI OS: JADUL. KAPASITAS MEMORI: MINIM. REKOMENDASI: PERLUAS KONEKSI MEMORI INTERNAL DENGAN USB HOST][MASUKKAN TELUNJUK KE PORT USB UNTUK SINKRONISASI DATA]Aku menarik ponsel keluar, menatap lubang kecil tempat kabel pengisi daya biasa masuk. Telunjukku bergetar saat aku menempelkannya ke sana. Rasanya aneh, menggelikan, seperti ada semut-semut listrik merayapi ujung jariku. Sebuah sensasi dingin menjalar dari sana, menembus kulit, terus naik ke lenganku.[TRANSFER DATA SEDANG BERLANGSUNG...][10%... 30%... 70%... 100%
Getaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu."Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini."Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memand







