بيت / Thriller / Kacamata Penakluk / 4. Perjalanan ke kampung

مشاركة

4. Perjalanan ke kampung

مؤلف: Lincooln
last update تاريخ النشر: 2026-02-05 08:44:48

Debu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.

Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.

Tik. Tik. Tik.

Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.

[MODE STEALTH: NONAKTIF]

"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"

Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.

[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]

Aku melepaskannya perlahan. Benda ini terasa asing, materialnya tidak seperti plastik atau logam yang pernah kusentuh. Begitu kacamata itu lepas dari wajahku, ia tetap padat di tanganku.

Aku membolak-baliknya di bawah cahaya lampu. Tidak ada bekas sambungan, tidak ada sekrup. Ini bukan barang buatan manusia biasa.

"Siapa yang meninggalkanmu di sini?"

Pertanyaanku hanya dijawab oleh keheningan gudang yang pengap. Aku kembali mengetuk pipi, dan kacamata itu menghilang dari genggaman, terserap kembali ke dalam saraf-saraf wajahku.

Rasanya aneh, tapi sekaligus memberiku rasa aman yang belum pernah kurasakan.

Getaran di saku celana mengejutkanku. Aku merogoh ponsel Android-ku yang layarnya sudah seperti peta pecah seribu. Nama 'Pak RT' berkedip di sana. Jantungku mencelos, rasa bersalah tiba-tiba menghimpit dada.

"Halo, gimana Pak RT?"

"Kamu di mana sekarang Jo?"

Suara Pak RT terdengar parau, ada keriuhan samar di latar belakangnya—suara piring yang bersentuhan dan gumaman orang banyak. Aku memejamkan mata, membayangkan rumah kayu nenek yang kini pasti dipenuhi tetangga.

"Saya... saya masih di kota, Pak. Maafkan saya. Tadi ada urusan mendesak di kantor."

Ada jeda panjang di seberang telepon. Aku menggigit bibir bawah, menunggu amarah atau teguran karena aku tidak segera pulang.

"Jangan dipikirkan lagi, Jo. Nenekmu sudah tenang."

"Maksud Bapak?"

"Tadi siang warga sepakat untuk langsung memakamkannya. Kami tidak tega membiarkan jenazahnya menunggu terlalu lama, apalagi cuaca sedang panas sekali. Kami coba hubungi kamu berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif."

Aku terpaku. Rasa sesak di dadaku perlahan mencair, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa hingga mataku terasa panas.

"Sudah... sudah dikuburkan, Pak?"

"Sudah, Jo. Di samping makam kakekmu, seperti permintaannya dulu. Semuanya berjalan lancar. Ibu-ibu di sini juga sudah menyiapkan pengajian untuk nanti malam. Kamu tahu sendiri, nenekmu itu orang baik. Semua orang di desa merasa kehilangan."

"Terima kasih banyak, Pak RT. Saya benar-benar... saya tidak tahu harus bicara apa. Biaya pemakamannya..."

"Ssst, diam dulu. Warga patungan, Jo. Ada juga simpanan nenekmu yang dia titipkan di kas desa. Kamu pulang saja pelan-pelan. Tidak perlu ngebut. Urus semua di sana sampai beres."

Aku mengusap sudut mataku dengan punggung tangan yang kasar.

"Saya akan pulang malam ini, Pak. Mungkin sampai sana tengah malam."

"Iya, hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai desa."

Sambungan terputus. Aku menatap layar ponsel yang gelap, lalu menyandarkan kepala ke dinding semen yang dingin. Beban berat yang tadi pagi seolah ingin mematahkan tulang punggungku kini terangkat.

Nenek sudah tenang. Dia sudah dikuburkan dengan layak oleh orang-orang yang menyayanginya.

"Terima kasih, Nek. Maafkan Bejo."

Langkah kaki terdengar dari balik pintu besi gudang. Suara stiletto yang beradu dengan lantai semen terdengar berirama, semakin lama semakin dekat. Aku berdiri tegak, merapikan seragam OB-ku yang masih menyisakan bau karbol.

Pintu terbuka dengan decitan yang menyayat telinga. Nadia berdiri di sana. Matanya masih sembab, namun dia sudah mencoba memoles wajahnya dengan bedak tebal. Dia membawa sebuah tas kulit mahal dan kunci mobil di tangannya.

"Semuanya sudah siap?"

Suara Nadia datar, hampir menyerupai robot. Dia tidak berani menatap langsung ke mataku.

"Mobil sudah di basement?"

Nadia mengangguk pelan. Dia meremas tali tasnya, seolah benda itu adalah pelampung di tengah badai.

"Di sudut terjauh, seperti yang kamu minta. Tidak ada yang melihat saya turun."

"Bagus. Ingat, Bu Nadia, sekali saja Anda mencoba melakukan gerakan tambahan..."

"Saya tahu!" Nadia memotong dengan nada tinggi yang kemudian langsung meluruh. "Saya tahu posisinya, Bejo. Saya tidak akan berani. Mari pergi sekarang sebelum ada orang lain yang datang ke sini."

Aku melangkah maju, melewati Nadia yang masih berdiri kaku di ambang pintu. Aroma parfumnya yang manis kini terasa hambar. Aku berhenti tepat di sampingnya, mencondongkan tubuh sedikit ke arah telinganya.

"Jalan di depan saya. Dan jangan lupa tersenyum kalau kita berpapasan dengan sekuriti."

Nadia menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. Dia menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya yang layu, lalu mulai berjalan di depanku.

Aku mengikutinya dari belakang, menjaga jarak layaknya seorang bawahan yang patuh, meski di balik kacamata tak kasat mata ini, aku sedang mengamati setiap detak jantungnya yang tidak beraturan.

Basement yang remang-remang itu hanya dihuni oleh deru mesin AC pusat dan aroma bensin yang samar. Kami masuk ke dalam mobil SUV hitam miliknya tanpa sepatah kata pun.

Nadia duduk di belakang kemudi, tangannya yang terawat dengan manikur sempurna tampak gemetar saat memutar kunci kontak. Aku memilih duduk di baris kedua, tepat di belakang kursi penumpang depan, menciptakan jarak yang cukup jauh sekaligus menegaskan siapa yang memegang kendali.

Begitu mobil meluncur keluar dari gedung kantor dan membelah kemacetan kota yang mulai menyala oleh lampu-lampu jalan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin.

Nadia tetap bungkam, matanya terpaku lurus ke depan seolah-olah setir mobil itu adalah satu-satunya hal yang bisa menahannya agar tidak runtuh. Aku menyandarkan kepala pada kaca jendela, menatap deretan toko dan gedung pencakar langit yang perlahan menjauh.

"Haha.."

Sebuah tawa kecil, hampir seperti gumaman miris, tiba-tiba lepas dari tenggorokanku. Aku melihat pantulan diriku di kaca; seorang OB kurus dengan seragam lusuh, kini sedang disupiri oleh seorang manajer HRD yang biasanya dipuja-puja di kantor.

Kontras ini terasa begitu gila, begitu absurd hingga terasa seperti mimpi buruk yang berubah menjadi komedi gelap.

"Ada yang lucu?" Nadia mendengus, suaranya tajam meski diselingi getaran ketakutan. Dia menatapku sekilas melalui spion tengah, matanya memicing penuh kejijikan.

"Lucu? Tentu saja lucu, Bu Nadia," balasku, membiarkan nada mengejek merayapi suaraku. "Betapa cepatnya takdir bisa berputar, bukan? Pagi ini, Anda mengancam memecat saya karena berduka. Sore ini, Anda menjadi sopir pribadi saya. Ini seperti film dark comedy yang sangat saya suka."

Nadia mengeratkan pegangan pada kemudi, buku-buku jarinya memutih. Dia tidak menjawab, hanya menghela napas panjang yang terdengar berat. Udara di dalam mobil terasa semakin tebal, dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa kurasakan di kulitku.

"Kamu pikir kamu hebat dengan ini?" Nadia akhirnya memecah keheningan, suaranya kini lebih rendah, lebih berbahaya. "Kamu pikir ini kemenangan?"

Aku terkekeh, menggelengkan kepala. "Kemenangan? Oh, belum. Ini baru permulaan, Bu Nadia. Permulaan yang sangat, sangat menarik."

Aku mencondongkan tubuh sedikit, suaraku ikut merendah, "Tahukah Anda, Bu, ada kepuasan tertentu saat melihat orang yang begitu angkuh merangkak di kaki Anda? Kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang."

Nadia menekan pedal gas, mobil melaju semakin cepat, seolah ingin melarikan diri dari percakapan ini. Kilatan lampu kota melewati wajahnya yang tegang.

"Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Bejo?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik, diselimuti rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan. "Apa yang kamu inginkan dariku?"

"Apa yang saya inginkan?" Aku menyandarkan punggung lagi, menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. "Saya ingin Anda menjadi cermin bagi saya, Bu Nadia. Cermin yang memantulkan setiap arogansi, setiap penghinaan, setiap perlakuan buruk yang pernah Anda berikan kepada orang lain."

Nadia menoleh, matanya mencariku di spion tengah, ekspresinya tidak terbaca.

"Saya ingin Anda merasakan bagaimana rasanya menjadi yang terendah, yang tidak berdaya," lanjutku, "Bagaimana rasanya hidup hanya untuk melayani orang lain. Dan saya ingin Anda melakukannya dengan senyum di wajah Anda."

Keheningan kembali menyelimuti kabin, kali ini lebih berat, lebih pekat. Hanya suara deru mesin mobil yang memecah kesunyian. Nadia tidak menjawab, tapi aku bisa melihat tangannya gemetar di setir, menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.

Dia tahu, ini bukan hanya tentang perjalanan ke kampung, ini adalah perjalanan ke neraka pribadinya, dan aku adalah iblis yang akan memandu jalannya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kacamata Penakluk   73. Permainan selesai (?)

    Aku melepaskan kacamata emas dari wajahku lalu meletakkannya di atas meja kaca yang berada di samping sofa. Cahaya biru pada bingkainya meredup perlahan hingga akhirnya menghilang, menyisakan pantulan lampu kota yang masuk melalui dinding kaca penthouse. Dari sini, jalanan di bawah sana tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti bergerak. Jika dilihat dari kejauhan, semuanya terlihat damai, seolah dunia berjalan sebagaimana mestinya.Aku terkekeh pelan.Damai hanyalah ilusi yang dinikmati oleh orang-orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Semakin tinggi seseorang naik, semakin jelas terlihat bahwa dunia tidak pernah dibangun oleh kejujuran seperti yang diajarkan dalam buku-buku. Dunia bergerak karena kepentingan. Karena ambisi. Karena ketakutan manusia kehilangan apa yang sudah mereka miliki. Dan malam ini, aku sedang memandangi hasil dari semua ketakutan itu.Aku menyandarkan tubuh ke sofa dan menutup mata beberapa saat. Rasanya aneh ketika menyadari

  • Kacamata Penakluk   72. Jalanan raya

    Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka

  • Kacamata Penakluk   71. Di kamar mandi

    Sari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman

  • Kacamata Penakluk   70. Hadiah untuk preman

    Sari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman

  • Kacamata Penakluk   69. Ancaman Herman

    Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da

  • Kacamata Penakluk   68. Sari ingin dilihat

    Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,

  • Kacamata Penakluk   8. Rahasia Sari

    Ban SUV mewah itu melindas kerikil tajam di pelataran parkir rumah makan di perbatasan desa. Debu mengepul, menyelimuti bodi mobil yang mengkilap, kontras dengan deretan motor bebek butut dan angkutan pedesaan yang terparkir semrawut.Aku turun, membiarkan pintu mobil tertutup dengan dentuman solid

  • Kacamata Penakluk   7. Istri muda pamanku

    Sinar matahari pagi menerobos celah-celah dinding kayu rumah nenek, membentuk garis-garis debu yang menari di udara pengap. Aku mengerjap, merasakan sisa-sisa kelelahan semalam masih menggelayut di pundakku.Di sampingku, Nadia tertidur pulas dengan posisi mer

  • Kacamata Penakluk   6. Absolut

    Cahaya biru redup dari lensa kacamata tak kasat mata itu berdenyut pelan, menyiram wajah Nadia yang masih bersimpuh di depanku. Aku menyandarkan punggung pada dinding kayu yang lapuk, menikmati pemandangan di bawah kakiku.Perubahan itu tidak hanya terjadi pada angka di layar sistem, tapi meresap k

  • Kacamata Penakluk   5. Kepatuhan Nadia

    Guncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket."Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."Nadia mendesis. Jemarinya mence

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status