Masuk
Getaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu.
"Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."
Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.
Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.
Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini.
"Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."
Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memandang kecoak yang lancang merayap di atas meja makan.
"Izin? Kamu lihat tumpukan berkas di meja saya, Bejo? Hari ini ada audit."
"Nenek saya meninggal, Bu. Beliau satu-satunya keluarga saya."
Suaraku pecah. Aku berharap ada secercah empati di balik mata tajam itu. Nadia justru menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada dengan angkuh.
"Semua orang akan mati, Bejo. Itu hukum alam. Apa dengan kamu pulang, nenekmu bakal bangkit lagi dari liang lahat?"
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras dari kabar kematian tadi. Aku mengepalkan tinju di samping paha, kuku-kukuku menusuk telapak tangan.
"Tapi saya harus menguburkannya, Bu. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana."
"Dengar ya, makhluk kerempeng. Kamu itu cuma OB. Cari pengganti kamu dalam satu jam, atau silakan pulang dan jangan pernah injakkan kaki di kantor ini lagi. Saya tidak butuh karyawan yang lebih mentingkan urusan mayat daripada urusan kantor."
"Ibu keterlaluan. Ini masalah kemanusiaan."
Nadia tertawa sinis, suara yang mengingatkanku pada gesekan logam.
"Kemanusiaan itu buat orang yang punya nilai, Bejo. Kamu? Kamu cuma alat. Sekarang keluar. Sebelum saya panggil sekuriti untuk menyeret kamu."
Aku keluar dengan langkah gontai. Kepalaku terasa kosong, hanya ada bayangan wajah nenek yang tersenyum keriput dalam ingatanku.
Aku bekerja seperti robot. Mempel, menyapu, mengosongkan tempat sampah. Air mata jatuh tanpa izin, membasahi lantai yang baru saja kubersihkan.
Lalu, malapetaka itu terjadi di koridor utama lantai lima.
Aku sedang membawa ember berisi air kotor saat Nadia berjalan terburu-buru sambil menatap ponselnya. Aku tidak fokus. Langkahku limbung.
Prang!
Air hitam berbau busuk itu tumpah tepat di atas sepatu stiletto merah dan bawah rok span mahalnya. Nadia mematung. Wajahnya perlahan berubah padam, urat-urat di lehernya menegang.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN, TOLOL!"
Teriakannya menggema, memantul di dinding kaca kantor. Karyawan-karyawan mulai keluar dari bilik mereka, membentuk lingkaran, menonton pertunjukan gratis yang memuakkan ini.
"Maaf, Bu... saya tidak sengaja. Pikiran saya tadi..."
"Pikiran apa? Otakmu itu isinya cuma sampah, sama seperti bau air ini!"
Nadia melangkah maju, mendorong bahuku hingga aku terjengkang ke lantai yang basah. Dia tidak peduli dengan citranya. Amarahnya sudah meluap menjadi kegilaan.
"Lihat ini! Sepatu ini harganya lebih mahal dari total gajimu selama setahun, dasar udik!"
"Saya mohon maaf, Bu. Saya bersihkan sekarang."
Aku merangkak, meraih ujung roknya dengan gemetar untuk mengelapnya dengan tisu saku. Nadia menendang tanganku.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotor itu! Kamu itu pembawa sial. Pantas saja nenekmu mati, mungkin dia malu punya cucu idiot seperti kamu!"
Darahku mendidih. Namun, aku hanya bisa menunduk. Aku butuh pekerjaan ini untuk biaya pemakaman. Dengan sisa harga diri yang hancur, aku bersujud di depan kakinya, di tengah genangan air kotor itu.
"Maafkan saya, Bu. Tolong jangan pecat saya. Saya mohon..."
Orang-orang di sekitar berbisik. Beberapa tertawa mengejek, yang lain menatap dengan iba yang menghina.
Aku bisa merasakan tatapan meremehkan mereka menusuk punggungku yang kurus. Tubuhku yang kerempeng karena sering melewatkan makan demi mengirim uang ke kampung, kini terlihat semakin menyedihkan di bawah sorot lampu neon.
"Bangun! Kamu bikin pemandangan jadi makin menjijikkan. Pergi dari hadapan saya sebelum saya benar-benar membuatmu tidak bisa bekerja di sini lagi!"
Aku berdiri dengan kaki yang lemas. Tanpa kata, aku memutar tubuh dan berlari. Bukan menuju lobi, tapi menuju gudang arsip di ujung lorong lantai dasar.
Tempat itu adalah lubang tikus bagi orang-orang sepertiku. Ruangan pengap yang dipenuhi debu dan kertas-kertas yang mulai membusuk.
Aku membanting pintu besi gudang dan menguncinya dari dalam. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kardus tua, aku meringkuk.
Napasku tersengal, dadaku sesak oleh amarah yang tertahan dan kesedihan yang menghimpit.
"Kenapa... kenapa harus begini?"
Aku memukul lantai semen dengan kepalan tangan hingga kulit buku jariku lecet. Dendam itu mulai tumbuh, hitam dan kental, menyelimuti hatiku yang hancur.
Aku benci Nadia. Aku benci kantor ini. Aku benci kemiskinanku.
Lelah yang luar biasa menghantamku. Mataku yang sembab mulai memberat. Di tengah aroma kertas tua dan debu, aku jatuh tertidur dalam posisi meringkuk seperti janin.
Entah berapa lama aku terlelap. Saat mataku terbuka, cahaya remang-remang dari celah ventilasi menyinari sebuah benda yang sebelumnya tidak ada di sana.
Di atas meja kayu lapuk yang biasanya kosong, terletak sebuah kotak kecil.
Kotak itu terbuat dari kayu hitam legam, namun di permukaannya terdapat ukiran emas yang sangat rumit. Ukiran itu seolah bergerak jika diperhatikan terlalu lama, membentuk pola-pola aneh yang tidak pernah kulihat.
Aku berdiri, mendekat dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutku.
"Ada orang di sini?"
Suaraku serak, memecah kesunyian gudang. Tidak ada jawaban. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Gudang ini tetap terkunci dari dalam. Bagaimana kotak ini bisa ada di sini?
Tanganku terulur, menyentuh permukaan kayu yang terasa dingin seperti es. Aku membukanya perlahan. Engsel kotak itu tidak bersuara sedikit pun. Di dalamnya, beralaskan kain beludru merah darah, terletak sebuah kacamata.
Bingkainya tipis, berwarna emas dengan desain yang klasik. Tidak ada merk. Tidak ada label harga. Hanya sebuah kacamata yang tampak sangat mahal.
"Punya siapa ini?"
Aku mengambilnya. Kacamata itu terasa sangat ringan, seolah-olah terbuat dari udara. Iseng, dan mungkin karena sedikit gila akibat tekanan hari ini, aku memakainya.
Begitu gagang kacamata itu menyentuh pelipis dan bertengger di hidungku, sebuah sensasi aneh menjalar. Rasanya seperti ribuan jarum mikro menusuk masuk ke dalam saraf-saraf di belakang mataku.
Aku meringis, hendak melepaskannya, tapi kacamata itu seolah terkunci di wajahku.
Zing!
Tiba-tiba, pandanganku tidak lagi hanya melihat gudang yang gelap. Di depan mataku, sebuah layar transparan menyala biru elektrik. Simbol-simbol aneh berputar cepat, menyinkronkan data dengan denyut jantungku.
[SINKRONISASI BERHASIL]
[MENGHUBUNGKAN KE SARAF PUSAT...]
[SELAMAT DATANG, PEMILIK BARU]
Aku ternganga. Jantungku berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari tulang rusuk. Layar digital itu terus berganti, menampilkan barisan teks yang melayang di udara.
[REGISTER: BEJO]
[LEVEL: 1]
[STATUS: OB LEMAH & TERTINDAS]
[MISI UTAMA DI AKTIFKAN: BALAS DENDAM PADA NADIA]
[HADIAH MISI: 50.000.000 RUPIAH & KENAIKAN LEVEL]
Aku mengucek mataku, berpikir ini mungkin mimpi atau efek dari dehidrasi dan kesedihan yang berlebihan. Namun, tulisan itu tetap di sana, tajam dan nyata.
"Apa-apaan ini?"
Aku mencoba melepas kacamata itu lagi, tapi tanganku hanya menyentuh kulit wajahku sendiri. Kacamata itu telah menyatu, menjadi tak terlihat namun fungsinya tetap aktif di dalam kesadaranku.
[PEMBERITAHUAN: TARGET TERDETEKSI DI RADIUS 50 METER]
Sebuah peta digital muncul di pojok kanan bawah pandanganku. Titik merah berkedip-kedip, bergerak perlahan. Di samping titik itu, ada foto profil Nadia dengan keterangan tambahan:
[Nadia (Target): Sedang memaki staf di ruang rapat. Tingkat emosi: 85% (Sangat Mudah Dimanipulasi)]
Aku menarik napas panjang. Rasa dingin merayap di punggungku, tapi kali ini bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan mendebarkan mulai menjalar dari dadaku ke seluruh tubuh.
Aku melihat tanganku yang kurus dan kotor. Kacamata ini... ini bukan sekadar alat optik. Ini adalah senjata.
"Jadi, kamu bilang aku sampah, Nadia?"
Aku tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah kuberikan pada siapa pun sebelumnya. Rasa polos dan lugu yang biasanya menghiasi wajahku menguap, digantikan oleh kilat amarah yang kini memiliki arah.
[SARAN SISTEM: GUNAKAN FITUR 'REKAM RAHASIA' UNTUK MENGUMPULKAN BUKTI PENYELEWENGAN DANA PERUSAHAAN OLEH TARGET]
Layar itu berkedip lagi, menunjukkan folder-folder rahasia yang tersimpan di server kantor yang tiba-tiba bisa kuakses hanya dengan memikirkannya. Mataku membelalak melihat angka-angka yang tertera di sana.
Nadia bukan hanya angkuh. Dia adalah pencuri.
Aku berdiri tegak, merapikan seragamku yang masih basah. Aku tidak lagi merasa seperti OB yang malang. Aku adalah pemilik sistem ini. Dan hari ini, aku akan memastikan Nadia merasakan apa yang kurasakan—kehancuran total.
"Mari kita lihat siapa yang akan bersujud di kaki siapa sekarang."
Aku melangkah keluar dari gudang arsip. Langkahku mantap, tidak ada lagi keraguan. Di balik pandanganku yang kini ditingkatkan oleh teknologi misterius ini, dunia tidak lagi terlihat sama. Semuanya hanyalah data, kelemahan, dan peluang.
Nenek, maafkan aku jika aku harus menunda kepulanganku sehari lagi. Aku punya sampah yang harus kubersihkan dari kantor ini. Dan kali ini, aku tidak akan menggunakan pel.
Guncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket."Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."Nadia mendesis. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dia melirik navigasi di layar sentuh besar yang terpasang di tengah kabin."Navigasinya bilang kita sudah masuk wilayah desa yang kamu tandai. Sekarang ke mana? Aku tidak mau tersesat di tengah hutan ini."Aku mengucek mata, mengusir sisa kantuk yang menggelayut. Di luar jendela, kegelapan pekat menelan segalanya. Hanya sorot lampu LED mobil yang membelah jalanan aspal sempit yang mulai berlubang. Pohon-pohon jati berdiri kaku di kanan-kiri jalan seperti barisan raksasa yang mengawasi kami."Lurus saja. Nanti ada jembatan kecil, belok kanan ke jalan tanah."Nadia mengerem mendadak saat roda depan menghantam lubang. Dia mengerang, memuku
Debu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.Tik. Tik. Tik.Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.[MODE STEALTH: NONAKTIF]"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]Aku melepa
Nadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam."Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorong
Sebuah notifikasi berkedip di pandanganku.[PEMBERITAHUAN SISTEM: BERKAS DIGITAL BERHASIL DIAMBIL. SIAP DITRANSFER][PILIH PERANGKAT PENYIMPANAN]Aku berpikir sejenak, tatapanku jatuh pada ponsel Android lamaku di saku. Layarnya retak seribu, bodinya baret di sana-sini, tapi itu satu-satunya perangkat yang kupunya. Dalam hati, aku membayangkan tumpukan data curian itu merayap masuk ke dalam ponsel bobrokku.[PERANGKAT TERDETEKSI: PONSEL ANDROID SAMSUNG GALAXY ACE 3. VERSI OS: JADUL. KAPASITAS MEMORI: MINIM. REKOMENDASI: PERLUAS KONEKSI MEMORI INTERNAL DENGAN USB HOST][MASUKKAN TELUNJUK KE PORT USB UNTUK SINKRONISASI DATA]Aku menarik ponsel keluar, menatap lubang kecil tempat kabel pengisi daya biasa masuk. Telunjukku bergetar saat aku menempelkannya ke sana. Rasanya aneh, menggelikan, seperti ada semut-semut listrik merayapi ujung jariku. Sebuah sensasi dingin menjalar dari sana, menembus kulit, terus naik ke lenganku.[TRANSFER DATA SEDANG BERLANGSUNG...][10%... 30%... 70%... 100%
Getaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu."Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini."Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memand







