MasukNadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam.
"Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"
Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.
Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]
Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorongan. Kacamata di wajahku terasa berdenyut, mengirimkan gelombang panas ke saraf-saraf di pelipisku.
"Apa yang lucu, Bu Nadia?" Suaraku terdengar datar, nyaris tanpa emosi. "Bukankah tadi Anda sendiri yang menawarkan apa saja agar saya tidak membongkar borok Anda?"
Nadia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat. Rambutnya yang tertata rapi kini terlihat sedikit berantakan. Dia tampak kehabisan kata, hanya menatapku dengan kebencian yang nyata.
"Kamu pikir saya akan tunduk pada... perintah dari tukang bersih-bersih seperti kamu?" Dia mendesis, suaranya rendah, penuh ancaman.
Aku mengangkat bahu, acuh tak acuh. "Pilihan ada di tangan Anda, Bu. Tunduk, dan semua rahasia Anda aman. Atau... kita lihat siapa yang akan lebih menderita saat semua ini terbongkar. Anda, dengan karir hancur, masuk penjara, atau saya, seorang OB yang mungkin cuma kehilangan pekerjaan, tapi dengan kepuasan telah menyeret orang munafik ke neraka?"
Wajah Nadia berkedut. Dia melirik ponsel retakku yang masih tergeletak di atas mejanya, seolah benda mati itu adalah pistol yang menodong kepalanya.
Mata liarnya mencari celah, jalan keluar. Tidak ada. Ruangan ini terkunci, gorden tertutup rapat. Kami terisolasi dalam permainan yang baru saja dimulai.
Dia menghela napas panjang, sebuah desahan putus asa yang menyerah. Pundaknya merosot, seolah beban tak terlihat baru saja menimpanya. Semua arogansi itu menguap, digantikan oleh kekalahan yang menyakitkan.
"Apa... apa yang kamu mau saya lakukan?" Suaranya kini lebih lemah, lebih rendah, hampir tidak terdengar.
"Bagus," aku tersenyum puas. Senyum itu terasa ganjil, sedikit menyeramkan. Aku menyeringai. "Pertama, minta maaf."
Nadia menatapku, matanya membelalak, seolah aku baru saja memintanya untuk memotong lidahnya sendiri.
"Minta... minta maaf?"
"Ya. Untuk semua yang Anda lakukan pagi ini. Untuk kata-kata Anda tentang nenek saya. Untuk bagaimana Anda memperlakukan saya." Aku mengambil satu langkah lagi, berdiri tepat di hadapannya, menunduk sedikit agar mata kami sejajar. "Dan kali ini, jangan pura-pura."
Butuh waktu beberapa detik. Detik-detik yang terasa seperti keabadian. Nadia mengepalkan tangannya, membiarkan kuku-kukunya menggores telapak tangan. Aku bisa melihat perjuangan batin yang hebat di matanya. Rasa harga dirinya terkoyak, diremas-remas di bawah kakiku.
Akhirnya, dia mengangguk. Gerakan itu kecil, nyaris tidak terlihat, namun cukup bagiku.
"Maaf," bisiknya, suaranya nyaris hilang.
"Tidak cukup," aku menggelengkan kepala. "Saya tidak mendengar. Ulangi, dengan suara yang lebih jelas. Dan tatap mata saya."
Nadia mendongak, tatapan bencinya masih ada, namun dibalut oleh lapisan ketakutan yang lebih tebal.
"Saya... saya minta maaf, Bejo," ucapnya, suaranya lebih keras sedikit, meski masih terdengar dipaksakan. "Saya minta maaf atas kata-kata saya tentang nenekmu. Saya minta maaf atas perlakuan saya pagi ini. Saya... saya sungguh minta maaf."
Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya, seperti racun. Tapi dia mengatakannya. Dia mengatakannya padaku, seorang OB.
"Bagus sekali, Bu Nadia," aku menyeringai. Sebuah kemenangan kecil, namun memuaskan. "Mulai sekarang, Anda akan menuruti semua perintah saya. Tanpa terkecuali. Jelas?"
Nadia mengangguk lagi, kali ini lebih cepat, lebih patuh. "Jelas."
Seketika, layar transparan kacamata di hadapanku berkedip. Sebuah notifikasi besar muncul, menutupi sebagian besar pandanganku.
[MISI UTAMA: BALAS DENDAM PADA NADIA. PROGRES: 20%]
[PENCAPAIAN BARU TERDETEKSI: KEDOMINASIAN ATAS TARGET NADIA BERHASIL DITEGAKKAN.]
[HADIAH: OPSI MISI ALTERNATIF TERBUKA.]
Mataku melebar membaca pesan itu. Ada 'opsi misi alternatif'? Kacamata ini terus mengejutkanku.
[PILIH JALUR MISI ANDA:]
[1. BALAS DENDAM TOTAL: Hancurkan karir dan kehidupan Nadia. Ekspos semua kejahatannya ke publik. Hadiah: Rp 50.000.000 & Kenaikan Level (Bersifat Final & Tidak Dapat Diulang).]
[2. JADIKAN NADIA PESURUH PRIBADI: Manfaatkan keahlian dan posisinya untuk keuntungan pribadi. Kendalikan setiap aspek hidupnya. Hadiah: Kekuatan Tak Terbatas Atas Target & Kenaikan Level (Bersifat Berkelanjutan & Potensi Hadiah Lebih Besar).]
Aku terpaku, membaca pilihan-pilihan itu berulang kali. Balas dendam total. Menghancurkannya. Ide itu terdengar begitu manis, begitu memuaskan. Mengingat bagaimana Nadia memperlakukanku, pilihan itu terasa benar.
Tapi... menjadikan dia pesuruh pribadi? Mengendalikannya? Potensi hadiah yang lebih besar?
Pikiranku berputar cepat. Jika aku menghancurkannya, semua akan berakhir. Dia akan pergi, dan aku akan kembali menjadi Bejo yang kerempeng, mungkin sedikit lebih kaya, tapi tanpa alat ini, tanpa tujuan.
Namun, jika dia menjadi pesuruhku...
Aku melirik Nadia yang masih berdiri terpaku di hadapanku, wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong, menunggu perintah selanjutnya.
Dia terlihat begitu rapuh. Aroma parfum mahalnya yang tadi terasa mencekik, kini terasa seperti bau kemenangan.
Wanita angkuh ini. Wanita yang membuatku bersujud di lantai basah. Wanita yang menghina nenekku. Hanya menghancurkannya terasa... tidak cukup.
Aku ingin dia merangkak. Aku ingin dia merasakan apa itu diperbudak. Aku ingin setiap hari, dia bangun dan tahu bahwa hidupnya kini ada di telapak tanganku. Rasa puas yang lebih besar daripada sekadar uang.
Kacamata tak kasat mata di wajahku terasa hangat, seolah setuju dengan pemikiranku.
Aku menoleh ke samping, berpura-pura menggaruk telinga, sambil ibu jariku menyentuh pelipisku. Aku tidak ingin Nadia melihatku "memencet-mencet udara" seperti orang gila.
Sistem ini terasa begitu nyata, seperti bagian dari diriku, tapi untuk orang lain, itu tidak terlihat, buktinya Nadia tidak terkejut melihat layar-layar imajiner ini terbentang di hadapanku.
[PILIHAN MISI TELAH DITENTUKAN: JADIKAN NADIA PESURUH PRIBADI.]
[MISI UTAMA DIPERBARUI: KUASAI NADIA SEUTUHNYA.]
[HADIAH: KEKUATAN TAK TERBATAS ATAS TARGET & KENAIKAN LEVEL.]
Rasa panas menjalar di dadaku. Ini bukan hanya tentang balas dendam. Ini tentang kekuasaan.
Aku kembali menatap Nadia. Mataku berkilat.
"Nah, Bu Nadia," aku memulai, suaraku kini mengandung nada yang baru, lebih gelap, "Pertama-tama, saya butuh izin pulang kampung."
Nadia menatapku, ekspresinya kosong. "Pulang... kampung?"
"Pulang kampung," ulangku, mengangguk. "Sore ini. Dan Anda ikut."
Alis Nadia terangkat, kerutan di dahinya kembali muncul. "Ikut? Apa maksudmu?"
"Maksudku," aku melangkah lebih dekat, hingga jarak di antara kami nyaris tak ada. Aroma ketakutan Nadia semakin kuat. "Anda akan menyetir mobil Anda sendiri. Mengantarku. Menemaniku ke kampung untuk pemakaman nenek."
Mata Nadia membelalak. Wajahnya yang tadi pucat kini seperti dilumuri lumpur. Dia terkesiap, seolah baru saja disiram air es.
"Tidak! Itu tidak mungkin! Saya punya rapat penting. Saya... saya tidak bisa pergi ke kampung. Apalagi dengan kamu, Bejo!"
Nada bicaranya meninggi, ada kepanikan yang disamarkan dengan amarah. Aku tahu, harga dirinya sekali lagi memberontak.
Aku melihat jijik di matanya. Bagaimana mungkin seorang Nadia, manajer HRD yang angkuh dan terbiasa dilayani, kini harus menjadi sopir pribadi seorang OB?
[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET KEMBALI MELAWAN. INGATKAN STATUS BARUNYA.]
Suara sistem kembali menggaung, menajamkan fokusku. Aku tidak akan membiarkan dia menginjakku lagi. Tidak setelah semua yang kulalui.
"Pikirkan lagi, Bu Nadia," aku mendesis, suaraku rendah dan dingin. "Sore ini. Anda dan saya. Atau, besok pagi, semua borok Anda akan terpampang di setiap media, di setiap email direksi. Pilihan ada di tangan Anda."
Nadia menatapku, matanya berkedip cepat, otaknya pasti bekerja keras mencari celah. Bibirnya bergetar, mencoba merangkai kata. Tangannya terangkat, mengatup di depan dada, seolah memohon.
"Tolong, Bejo," suaranya melirih, nyaris putus asa. "Kita tidak bisa terlihat bersama. Reputasi saya... ini akan menghancurkan saya. Apa kata orang kalau saya pergi ke kampung dengan seorang OB? Lagipula, mobil saya... itu mobil kantor."
Mataku menyipit. Dia masih memikirkan reputasinya. Dia masih menempatkan diri di atas. Amarahku kembali membakar, panas dan pekat, merayap dari perut hingga ke ubun-ubun.
"Reputasi?" Aku mencibir, tawa pahit menguar dari bibirku.
"Reputasi macam apa yang sedang Anda bicarakan, Bu Nadia? Reputasi seorang pencuri? Seorang penipu? Anda pikir saya tidak tahu mobil itu juga termasuk bagian dari fasilitas yang Anda dapatkan secara tidak sah?"
Nadia tersentak mundur, punggungnya menabrak meja kerja, membuat vas bunga di atasnya berguncang. Wajahnya kembali memucat, lebih pucat dari sebelumnya.
"Anda masih mencoba mengancam saya dengan nama baik Anda yang busuk itu?" Aku mengambil langkah maju lagi, mencondongkan tubuh hingga bayanganku sepenuhnya menaunginya.
"Dengar baik-baik, Bu Nadia. Saya tidak peduli reputasi Anda. Saya tidak peduli apa kata orang. Yang saya pedulikan adalah kepatuhan Anda. Anda sudah bersumpah akan menuruti semua perintah saya. Apa janji Anda hanya omong kosong belaka?"
Nadia menunduk, tidak sanggup menatap mataku. Bahunya bergetar, aku mendengar suara isak tangis yang perlahan keluar dari bibirnya yang lembut.
Nadia merosot, jatuh terduduk di lantai berkarpet tebal, tubuhnya bergetar hebat. Lututnya menekuk, kepalanya terkulai di antara bahu yang melengkung. Wanita angkuh yang tadi pagi berdiri tegak di atas kehancuranku, kini runtuh di hadapanku, hancur berkeping-keping.
Pakaian mahalnya kusut, rambutnya berantakan, dan aroma parfumnya kini bercampur dengan bau asin air mata.
Aku menatapnya. Kepuasan itu ada, hangat, menggelitik di perutku. Ini adalah pemandangan yang kuimpikan. Nadia yang takluk, Nadia yang merangkak.
Tapi isakannya menusuk telingaku. Aku menghela napas. Kemenangan ini terasa sedikit… hampa. Aku menjadi kasihan melihatnya.
Aku menghela napas. Pemandangan Nadia yang terisak di lantai, dengan bahu terguncang dan rambut berantakan, membuat kepuasan yang baru saja kurasakan sedikit memudar.
"Cukup, Bu Nadia." Suaraku terdengar lebih lembut dari yang kuinginkan. "Berhenti menangis. Saya tidak suka drama."
Nadia mengangkat kepalanya sedikit, matanya bengkak dan merah, menatapku dengan ekspresi campur aduk antara takut dan terkejut. Mungkin dia tidak menyangka aku akan menunjukkan sedikitpun kelembutan.
"Jadi... jadi kamu tidak akan melaporkanku?" bisiknya, suaranya serak.
Aku mengamati ekspresi wajahnya, mencari sisa-sisa arogansi yang tersisa. Tidak ada. Hanya keputusasaan yang telanjang.
"Untuk saat ini," kataku, melipat tangan di dada. "Saya tidak akan melaporkan Anda."
Nadia menarik napas lega yang panjang, seolah baru saja muncul ke permukaan setelah ditenggelamkan.
"Tapi," lanjutku, "syarat yang saya ajukan tetap berlaku. Anda akan menuruti semua perintah saya. Termasuk mengantar saya pulang kampung."
Dia mengangguk cepat, kepalanya nyaris menyentuh lantai. "Iya, Bejo. Apa pun. Saya akan melakukan apa pun yang kamu minta."
Aku mengamati bibirnya yang bergetar. "Bagus. Sekarang dengarkan baik-baik. Saya mengerti kekhawatiran Anda tentang... citra Anda."
Nadia mendongak, matanya penuh harap. "Jadi... kamu tidak akan memaksaku pergi bersamamu di depan semua orang?"
Aku menggeleng. "Tidak. Kita akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Anda tetap akan mengantar saya. Tapi kita tidak perlu membuat seluruh kantor tahu."
Wajah Nadia sedikit cerah, sebuah secercah harapan muncul di matanya yang sembab. "Bagaimana caranya?"
"Sore ini, setelah jam kantor usai, Anda akan pergi ke basement seperti biasa," aku menjelaskan, suaraku rendah dan penuh perhitungan.
"Parkir di sudut paling gelap. Pastikan tidak ada orang di sekitar. Saya akan menunggu di sana. Setelah itu, saya akan masuk ke mobil Anda."
Nadia menatapku, memproses setiap kata. Ekspresi ketakutannya perlahan digantikan oleh sesuatu yang lain, semacam penerimaan yang pahit. Dia menelan ludah.
"Begitu?" tanyanya, suaranya sedikit lebih stabil. "Hanya itu?"
"Hanya itu, untuk saat ini," kataku. "Tugas Anda adalah memastikan tidak ada yang melihat kita pergi bersama. Buat alasan untuk keluar kantor sedikit lebih lambat, atau sedikit lebih cepat, apa pun yang Anda inginkan. Yang penting, saya tidak ingin ada saksi mata."
Dia mengangguk. Gerakan itu lebih mantap, lebih yakin. "Baik, Bejo. Saya mengerti. Aku akan memastikan tidak ada yang melihat."
Sebenarnya, ini tidak hanya sekadar kasihan. Meskipun aku kini memegang kendali atas Nadia, menampilkan kedekatan dengannya di kantor sama saja dengan menjerumuskan diriku ke dalam pusaran masalahnya.
Sistem kacamata ini telah memberiku kekuatan, tapi juga kebijaksanaan untuk menjaga jarak. Aku tidak ingin ditarik ke dalam lumpur yang sama dengannya, hanya untuk menari di atas kehancurannya.
Rencanaku bukan untuk menjadi bagian dari kegelapan Nadia, melainkan menjadi dalang yang menggerakkan pion-pion di papan catur kehidupannya.
Guncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket."Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."Nadia mendesis. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dia melirik navigasi di layar sentuh besar yang terpasang di tengah kabin."Navigasinya bilang kita sudah masuk wilayah desa yang kamu tandai. Sekarang ke mana? Aku tidak mau tersesat di tengah hutan ini."Aku mengucek mata, mengusir sisa kantuk yang menggelayut. Di luar jendela, kegelapan pekat menelan segalanya. Hanya sorot lampu LED mobil yang membelah jalanan aspal sempit yang mulai berlubang. Pohon-pohon jati berdiri kaku di kanan-kiri jalan seperti barisan raksasa yang mengawasi kami."Lurus saja. Nanti ada jembatan kecil, belok kanan ke jalan tanah."Nadia mengerem mendadak saat roda depan menghantam lubang. Dia mengerang, memuku
Debu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.Tik. Tik. Tik.Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.[MODE STEALTH: NONAKTIF]"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]Aku melepa
Nadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam."Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorong
Sebuah notifikasi berkedip di pandanganku.[PEMBERITAHUAN SISTEM: BERKAS DIGITAL BERHASIL DIAMBIL. SIAP DITRANSFER][PILIH PERANGKAT PENYIMPANAN]Aku berpikir sejenak, tatapanku jatuh pada ponsel Android lamaku di saku. Layarnya retak seribu, bodinya baret di sana-sini, tapi itu satu-satunya perangkat yang kupunya. Dalam hati, aku membayangkan tumpukan data curian itu merayap masuk ke dalam ponsel bobrokku.[PERANGKAT TERDETEKSI: PONSEL ANDROID SAMSUNG GALAXY ACE 3. VERSI OS: JADUL. KAPASITAS MEMORI: MINIM. REKOMENDASI: PERLUAS KONEKSI MEMORI INTERNAL DENGAN USB HOST][MASUKKAN TELUNJUK KE PORT USB UNTUK SINKRONISASI DATA]Aku menarik ponsel keluar, menatap lubang kecil tempat kabel pengisi daya biasa masuk. Telunjukku bergetar saat aku menempelkannya ke sana. Rasanya aneh, menggelikan, seperti ada semut-semut listrik merayapi ujung jariku. Sebuah sensasi dingin menjalar dari sana, menembus kulit, terus naik ke lenganku.[TRANSFER DATA SEDANG BERLANGSUNG...][10%... 30%... 70%... 100%
Getaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu."Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini."Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memand







