MasukGuncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket.
"Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."
Nadia mendesis. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dia melirik navigasi di layar sentuh besar yang terpasang di tengah kabin.
"Navigasinya bilang kita sudah masuk wilayah desa yang kamu tandai. Sekarang ke mana? Aku tidak mau tersesat di tengah hutan ini."
Aku mengucek mata, mengusir sisa kantuk yang menggelayut. Di luar jendela, kegelapan pekat menelan segalanya. Hanya sorot lampu LED mobil yang membelah jalanan aspal sempit yang mulai berlubang. Pohon-pohon jati berdiri kaku di kanan-kiri jalan seperti barisan raksasa yang mengawasi kami.
"Lurus saja. Nanti ada jembatan kecil, belok kanan ke jalan tanah."
Nadia mengerem mendadak saat roda depan menghantam lubang. Dia mengerang, memukul kemudi dengan telapak tangannya.
"Aduh! Mobil ini bukan untuk jalanan kerbau seperti ini, Bejo! Kamu lihat harganya? Kalau suspensinya rusak, gajimu sepuluh tahun pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya."
"Terus saja berkendara, Bu Nadia. Jangan banyak mengeluh. Anda sedang menjalankan tugas sebagai sopir sekarang, bukan manajer HRD."
Aku menyandarkan kepala, memandangi bayangan pepohonan yang berlari di kaca samping. Suasana ini begitu akrab, namun terasa sangat asing tanpa kehadiran Nenek di ujung jalan nanti.
"Pelankan kecepatannya. Di depan itu, setelah pohon mangga besar, belok kiri."
Nadia memutar kemudi dengan gerakan kasar. Ban mobil menggilas kerikil dan tanah kering, menimbulkan suara berisik yang memecah keheningan malam. Mobil berguncang hebat saat melewati gundukan tanah.
"Di mana rumahnya? Aku cuma melihat semak belukar dan kegelapan."
"Itu, yang ada sedikit cahaya di terasnya. Berhenti di sana, di bawah pohon nangka itu."
Sorot lampu mobil perlahan menyapu dinding kayu yang sudah kusam dan atap ijuk yang mulai rontok di beberapa bagian. Rumah itu berdiri terpencil, menjauh dari tetangga lainnya, seolah mengasingkan diri dalam kesunyian yang abadi.
Nadia mematikan mesin. Seketika, sunyi yang mencekam menyergap kami.
"Ini... ini rumahnya?"
Suara Nadia mengecil, ada nada tidak percaya sekaligus ngeri di dalamnya. Dia menatap bangunan reyot itu melalui kaca depan tanpa berkedip.
"Sebentar, biar aku turun dan menyalakan lampu dalam."
Aku membuka pintu mobil. Udara malam yang dingin menusuk langsung ke tulang melalui seragam OB-ku yang tipis.
Langkahku terasa berat saat menginjak tanah pekarangan yang tidak berpagar. Bau tanah basah dan sisa-sisa bunga kamboja entah dari mana memenuhi rongga hidung.
Aku melangkah ke teras, meraba dinding kayu di samping pintu kayu yang sudah lapuk. Begitu saklar kutekan, lampu kuning redup menyala di teras, memperlihatkan betapa menyedihkannya kondisi rumah ini jika dibandingkan dengan kendaraan mengkilap yang terparkir di halamannya.
"Bejo..."
Nadia berdiri di samping pintu mobil, tangannya mendekap erat tas kulit mahalnya ke dada. Dia memandang sekeliling dengan mata yang waspada, seolah takut ada hantu yang akan melompat dari kegelapan.
"Kenapa diam saja di sana? Ayo masuk."
Aku mendorong pintu depan. Suara decitan engsel yang berkarat terdengar seperti rintihan panjang. Ruangan utama menyambutku dengan aroma debu dan kenangan. Hanya ada satu kursi kayu tua di sudut, dan sebuah meja kecil dengan taplak usang. Tidak ada sofa, tidak ada televisi, apalagi pendingin ruangan.
Air mataku mendesak keluar saat melihat foto kakek dan nenek yang tergantung miring di dinding. Ruangan ini biasanya berbau kopi dan gorengan singkong buatan Nenek.
Sekarang, hanya ada bau kosong. Bau kehilangan. Aku cepat-cepat menyeka sudut mataku dengan punggung tangan sebelum Nadia sempat melihat.
"Ya Tuhan... aromanya..."
Nadia berdiri di ambang pintu, menutup hidungnya dengan punggung tangan. Matanya menyapu langit-langit yang penuh sarang laba-laba. Dia menatap lantai papan kayu dengan pandangan jijik, seolah-olah menginjak kotoran.
"Ini tempat tinggal manusia, Bejo? Benar-benar... sangat primitif."
"Jaga bicaramu, Nadia. Di sini Nenekku membesarkanku. Tempat ini jauh lebih bersih daripada hatimu yang korup."
Nadia tersentak. Dia melangkah masuk dengan ragu, suara ketukan tumit stiletto-nya terdengar sangat asing di atas lantai kayu ini. Setiap langkahnya diikuti dengan tatapan yang seolah-olah dia sedang menjelajahi gua berhantu.
"Hei! Berhenti di sana!"
Nadia mematung, satu kakinya masih menggantung di udara. "Apa lagi?"
"Lepas sepatumu. Di rumah ini, tidak ada yang boleh pakai alas kaki masuk ke dalam."
Nadia menatap sepatunya yang mengkilap, lalu menatap lantai kayu yang tampak berdebu di beberapa sudut. Wajahnya mengeras, kerutan di dahinya kembali muncul.
"Kamu bercanda? Lantai ini kotor sekali, Bejo. Aku tidak mau kakiku terkena kuman atau entah apa yang ada di bawah sana."
"Lepas, Nadia. Itu perintah."
Aku menatapnya tajam. Kacamata sistem di wajahku seolah memberikan tekanan tambahan melalui tatapanku.
Nadia mengerang frustrasi, namun dia tidak berani melawan. Dia memegang dinding kayu untuk menyeimbangkan tubuhnya, lalu mulai melepas stiletto merahnya satu per satu.
Aku memperhatikan jari kakinya yang terawat dengan cat kuku senada dengan sepatunya. Begitu kakinya menyentuh permukaan kayu yang dingin dan kasar, jari-jari itu menekuk ke dalam, seolah-olah dia sedang menginjak bara api.
Dia berdiri kaku, tangannya gemetar memegang sepatu mahalnya.
"Puas sekarang? Kakiku akan kotor semua."
"Letakkan sepatumu di sana, di dekat pintu. Lalu duduk di kursi itu. Aku mau ke dapur sebentar."
Nadia melihat ke arah kursi kayu di sudut yang tampak tidak meyakinkan. Dia mendekat dengan langkah-langkah kecil, sangat hati-hati agar sesedikit mungkin bagian kakinya bersentuhan dengan lantai. Saat dia akhirnya duduk, dia tetap menjaga punggungnya agar tidak menyentuh sandaran kursi.
"Berapa lama kita harus di sini? Aku tidak mungkin tidur di tempat seperti ini, Bejo. Kita bisa kembali ke kota setelah kamu beres-beres, kan?"
Aku tidak menjawab. Aku berjalan menuju dapur yang hanya dibatasi oleh sekat papan setengah badan. Di sana, tungku kayu bakar masih menyisakan abu dingin. Sebuah panci alumunium tua tergantung di dinding. Aku menyalakan lampu dapur yang sama redupnya.
"Nadia, kemari."
"Apa lagi sekarang? Aku tidak mau ke belakang sana, baunya lebih menyengat."
"Kemari atau aku kirim folder 'Budi Santoso' ke grup W******p direksi malam ini juga."
Terdengar suara hentakan kaki yang dipaksakan. Nadia muncul di ambang dapur, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu kuning. Dia merapatkan blus sutranya, seolah-olah suhu di sini jauh lebih dingin dari aslinya.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Ambil sapu di pojok itu. Bersihkan ruangan depan. Aku mau menyiapkan air untuk kita minum."
Nadia melongo. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk yang gemetar.
"Aku? Menyapu? Kamu gila, Bejo! Aku manajer HRD, aku tidak pernah menyentuh sapu seumur hidupku!"
"Hari ini sejarah baru tercipta untukmu, Nadia. Ambil sapunya sekarang. Atau kamu mau aku yang menyapu sambil mengetik email untuk Pak Direktur?"
Nadia menelan ludah. Amarahnya terlihat mendidih di balik matanya yang bengkak, namun ketakutan jauh lebih mendominasi.
Dengan gerakan yang sangat kaku, dia meraih sapu lidi yang tersandar di pojok dapur. Dia memegangnya dengan dua jari, seolah-olah benda itu adalah bangkai tikus yang menjijikkan.
"Cepatlah. Jangan hanya dipandangi."
Nadia berbalik dan mulai menggerakkan sapu itu di ruang depan. Gerakannya sangat canggung, lebih mirip orang yang sedang mengaduk sampah daripada menyapu. Aku memperhatikannya dari dapur, melihat bagaimana wanita yang biasanya memerintah dengan satu jentikan jari itu kini harus membungkuk di rumah reyotku.
"Pelan-pelan, Nadia. Jangan sampai debunya terbang ke mana-mana."
"Diam kamu, Bejo! Aku sedang berusaha!"
Dia membalas dengan teriakan frustrasi, namun tetap melanjutkan pekerjaannya. Kacamata di wajahku berkedip, menampilkan status target yang diperbarui.
[STATUS TARGET NADIA: TINGKAT KEPATUHAN MENINGKAT (45%). TINGKAT STRES: TINGGI. EGO: TERLUKA PARAH.]
Aku tersenyum tipis. Rasa sedih karena kehilangan Nenek masih ada di sana, mengendap di dasar hati. Namun melihat Nadia yang berkuasa itu kini merayap di lantai kayu rumah nenekku, ada sedikit rasa hangat yang menjalar di dadaku.
"Nenek, lihatlah," bisikku pelan sambil menatap panci tua di depanku. "Orang yang menghinamu tadi pagi, sekarang sedang membersihkan rumahmu."
Aku bergerak membuka lemari dapur yang sudah usang. Beberapa bahan makanan masih tersisa - telur, beras, dan minyak goreng.
Tanganku dengan cekatan mulai menyiapkan nasi hangat dan telur dadar. Meskipun sederhana, gerakanku sudah terlatih dari sekian tahun memasak untuk Nenek.
Aroma telur yang digoreng segera memenuhi ruangan. Nadia yang tadinya masih menggerak-gerakkan sapu dengan ogah-ogahan, tiba-tiba berhenti. Hidungnya mengendus ke arah dapur, matanya melirik ke arahku yang sedang memasak.
Saat tatapan kami bertemu, pipi Nadia memerah. Dia tampak malu-malu, lalu berkata dengan suara pelan, "Aromanya... enak juga, ternyata telur dadarmu."
Aku tersenyum mengejek dan mengatakan, "Nona HRD masa tidak pernah makan telur dadar?"
Dia langsung cemberut dan membalas dengan nada defensif, "Sudah pernah, aku bisa masak sendiri! Tapi... aroma ini memang tercium sangat enak. Mungkin karena aku lapar."
Aku mengangguk sambil menyajikan telur dadar di atas meja kayu tua. Nasi yang kupanaskan sudah matang, mengepulkan asap putih yang memenuhi dapur.
Piring tempat hidangan adalah piring lawas milik Nenek, ada retakan di sisi kanannya namun masih kuat menahan beban makanan.
"Makanlah," kataku singkat. "Kamu pasti lelah."
Nadia menatap hidangan itu dengan ragu, seolah makanan sederhana ini adalah jebakan. Tangannya gemetar saat mengambil sendok kayu yang sudah menghitam dimakan usia. Dia menatapku sekilas, mencari-cari maksud tersembunyi di balik ajakan makan ini.
"Kenapa melihatku seperti itu? Makanlah sebelum dingin," ujarku, suara yang terdengar seperti perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.
Nadia menyuap ragu, ujung sendok kayunya menyentuh bibir dengan canggung. Matanya masih waspada, sesekali melirikku yang sedang menuangkan air ke gelas kaleng.
Kunyahan pertamanya lambat, penuh pertimbangan, seolah sedang menganalisis setiap butir nasi dan potongan telur. Tapi setelah itu, segalanya berubah.
Wajahnya yang tegang perlahan mengendur, matanya sedikit terpejam, dan tanpa sadar, suapannya menjadi lebih cepat, lebih rakus. Dia makan dengan lahap, menunduk dalam, seolah takut ada yang merebut makanan itu darinya. Aroma parfum mahalnya kini berpadu dengan gurih telur dadar dan hangat nasi.
Saat aku memperhatikannya, sebuah notifikasi merah menyala tiba-tiba muncul di pandanganku.
[PEMBERITAHUAN MENDESAK!!! TINGKAT KEPATUHAN >50 PERSEN, TANTANGAN MEMBUKA KARAKTER: SUBMISIF]
Tiga tanda seru besar memenuhi layar, berkedip-kedip seolah memperingatkan bahaya. Jantungku berdebar lebih kencang, firasat aneh merayapi tulang belakangku. Aku merasakan aura berbahaya dari opsi ini, tapi rasa penasaran ini jauh lebih besar dari peringatan itu.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: TANTANGAN KARAKTER BARU AKAN MENGAKTIFKAN PENGUJI KEPATUHAN. JIKA GAGAL, TINGKAT KEPATUHAN TARGET AKAN BERKURANG SEBESAR 20%. APAKAH ANDA YAKIN INGIN MELANJUTKAN?]
Dua pilihan mengambang di depan mataku: [YA] atau [TIDAK]. Kehilangan 20 persen kepatuhan Nadia? Risiko yang cukup besar, mengingat betapa rapuhnya kendali yang baru saja kupegang.
Namun, kesempatan untuk membentuknya, untuk menjadikannya submisif sepenuhnya, adalah godaan yang tak tertahankan. Ini bukan hanya tentang kemenangan sesaat, tapi tentang kekuasaan mutlak.
Aku adalah dalang, dan Nadia adalah boneka yang baru belajar menari. Aku tidak akan membiarkan kesempatan ini lolos.
Tanpa ragu, ibu jariku melayang, menekan opsi [YA].
Nadia masih menyuap nasi dengan lahap, matanya terpejam seolah menikmati setiap butir. Sendok kayu itu hampir menyentuh bibirnya saat aku bergerak.
Tanganku terulur cepat, mencengkeram piring lawas Nenek dari genggamannya. Dia tersentak, matanya terbuka lebar.
"Hei! Apa-apaan ini, Bejo?!"
Aku mundur selangkah, menahan piring itu jauh dari jangkauannya. Wajahnya merah padam, perpaduan antara kaget dan marah. Dia bangkit dari kursi, bergerak ke arahku, mencoba meraih piring itu.
"Apa maksudmu dengan ini? Aku belum selesai makan!"
Lengannya terulur, mencoba menggapai. Aku mengangkat piring lebih tinggi, menjaga jarak. Bibirnya bergetar, raut wajahnya berubah menjadi rengekan.
"Kembalikan, Bejo! Aku lapar!"
"Oh, kamu lapar?" Aku tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. "Kamu benar-benar lapar?"
Dia mengangguk cepat, tangannya masih terulur, jemarinya mengepal di udara. Matanya memelas, namun ada sedikit kilatan amarah yang masih tersisa di dalamnya.
"Iya! Kembalikan makananku!"
"Coba katakan dengan jelas, apa yang kamu inginkan?"
"Makananku!" Dia menghentakkan kaki, persis seperti anak kecil yang merajuk.
"Bukan itu yang saya maksud, Nadia." Aku menggeleng, membuat piring itu sedikit bergoyang. "Saya ingin kamu meminta dengan benar."
Wajahnya kusut, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tenggorokannya tercekat, namun dia mencoba berucap, "Tolong... tolong berikan makananku, Bejo."
"Kata-katamu masih kurang, Nadia." Aku mendekatkan piring itu sedikit, membiarkan aroma gurih telur dadar menggodanya, lalu menariknya lagi. "Coba katakan siapa yang memberimu makan."
Dia menatapku, matanya kosong, bingung, lalu perlahan sebuah pemahaman pahit menyelinap di sana. Bibirnya terbuka dan tertutup, mencoba merangkai kata. Rasa jijik dan kebencian berkelebat cepat di matanya.
"Panggil aku, Tuan," bisikku, suaraku rendah dan dingin. "Baru kuberikan makananmu."
Nadia terpaku. Wajahnya memucat lagi. Perjuangan batin yang hebat terlukis jelas. Aku bisa melihatnya menelan ludah yang pahit, memaksakan diri menghadapi kenyataan baru ini. Matanya berkedip cepat, antara amarah yang membara dan ketakutan yang mencekik. Dia tahu konsekuensinya. Dia tahu siapa yang memegang kendali.
"Tuan?" Suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin malam yang kesepian. Kata itu terasa begitu asing di lidahnya, begitu menjijikkan dari bibir yang biasanya hanya mengeluarkan perintah.
"Lebih keras, Nadia," desisku, senyumku semakin lebar. "Aku tidak mendengar."
Nadia mengepalkan tangan, kuku-kukunya memutih. Matanya berkaca-kaca, air mata mengalir membasahi pipinya yang kini kotor oleh debu dan air mata.
Ini adalah puncaknya, titik terendah baginya. Semua harga diri, semua arogansi, kini harus dihancurkan di depan mataku.
"T-tuan..." Kali ini, suaranya sedikit lebih jelas, namun dipenuhi isak tangis yang tertahan.
"Masih belum cukup. Katakan padaku, siapa yang memberimu makan?" Aku mendekatkan piring itu ke hidungnya, membiarkan aroma gurih itu kembali menyiksa seleranya yang kelaparan.
"Ucapkan dengan jelas, dengan rasa hormat."
Dia terhuyung, air mata mengalir deras. Nadia jatuh berlutut di lantai kayu yang dingin, tangannya mencengkeram lututku yang terbungkus celana OB tipis. Pandangannya ke bawah, tidak berani menatap mataku.
"T-Tuan... tolong... berikan saya makanan. Anda yang memberikannya, Tuan," bisiknya, suaranya parau, pecah oleh isak tangis dan keputusasaan yang begitu nyata.
Kata "Tuan" itu terucap dengan begitu sulit, seolah lidahnya sendiri menolaknya, namun kelaparan dan ketakutan berhasil memaksanya.
Aku menatapnya yang berlutut di kakiku, tubuhnya bergetar, rambutnya acak-acakan. Ini adalah pemandangan yang tak pernah kubayangkan, bahkan dalam mimpi terliarku sekalipun.
Kemenangan ini terasa begitu pahit, namun sekaligus begitu manis dan memabukkan.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: TANTANGAN KARAKTER: SUBMISIF BERHASIL. TINGKAT KEPATUHAN NADIA: 85%. HADIAH: KONTROL EMOSI NADIA AKAN SEPENUHNYA BERADA DI TANGAN ANDA, TERMASUK KEMAMPUAN UNTUK MEMICU RASA TAKUT DAN GAIRAH]
Guncangan kasar di lutut membuyarkan mimpiku tentang wajah keriput Nenek. Aku tersentak, punggungku menghantam sandaran jok kulit yang empuk. Cahaya dari dasbor SUV mewah ini menyilaukan mata yang masih lengket."Bangun! Kita sudah keluar tol setengah jam yang lalu."Nadia mendesis. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dia melirik navigasi di layar sentuh besar yang terpasang di tengah kabin."Navigasinya bilang kita sudah masuk wilayah desa yang kamu tandai. Sekarang ke mana? Aku tidak mau tersesat di tengah hutan ini."Aku mengucek mata, mengusir sisa kantuk yang menggelayut. Di luar jendela, kegelapan pekat menelan segalanya. Hanya sorot lampu LED mobil yang membelah jalanan aspal sempit yang mulai berlubang. Pohon-pohon jati berdiri kaku di kanan-kiri jalan seperti barisan raksasa yang mengawasi kami."Lurus saja. Nanti ada jembatan kecil, belok kanan ke jalan tanah."Nadia mengerem mendadak saat roda depan menghantam lubang. Dia mengerang, memuku
Debu menari-nari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menerangi barisan rak besi berkarat di gudang arsip. Aku menyandarkan punggung pada tumpukan kardus yang sudah lapuk, menunggu Nadia menyelesaikan urusannya di atas sana.Suasana sunyi, hanya deru AC tua yang batuk-batuk di sudut ruangan. Aku menyentuh tulang pipi kananku. Iseng, aku mengetuknya tiga kali dengan ujung telunjuk.Tik. Tik. Tik.Sensasi dingin merayap di pelipis. Tiba-tiba, kacamata bingkai emas itu mewujud kembali, terasa ringan namun kokoh di pangkal hidungku. Sebuah layar hologram biru transparan berkedip di depan mataku, menampilkan barisan kode yang berjalan cepat.[MODE STEALTH: NONAKTIF]"Jadi, kamu bisa menghilang, ya?"Aku bergumam pada kekosongan. Suaraku menggema di antara tumpukan kertas. Layar itu merespons dengan kilatan cahaya kecil.[KONFIRMASI: PEMILIK MENGGUNAKAN MODE STEALTH SECARA OTOMATIS SAAT TERDETEKSI ADANYA KONTAK VISUAL DENGAN TARGET. KACAMATA HANYA DAPAT DILIHAT OLEH PEMILIK.]Aku melepa
Nadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam."Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorong
Sebuah notifikasi berkedip di pandanganku.[PEMBERITAHUAN SISTEM: BERKAS DIGITAL BERHASIL DIAMBIL. SIAP DITRANSFER][PILIH PERANGKAT PENYIMPANAN]Aku berpikir sejenak, tatapanku jatuh pada ponsel Android lamaku di saku. Layarnya retak seribu, bodinya baret di sana-sini, tapi itu satu-satunya perangkat yang kupunya. Dalam hati, aku membayangkan tumpukan data curian itu merayap masuk ke dalam ponsel bobrokku.[PERANGKAT TERDETEKSI: PONSEL ANDROID SAMSUNG GALAXY ACE 3. VERSI OS: JADUL. KAPASITAS MEMORI: MINIM. REKOMENDASI: PERLUAS KONEKSI MEMORI INTERNAL DENGAN USB HOST][MASUKKAN TELUNJUK KE PORT USB UNTUK SINKRONISASI DATA]Aku menarik ponsel keluar, menatap lubang kecil tempat kabel pengisi daya biasa masuk. Telunjukku bergetar saat aku menempelkannya ke sana. Rasanya aneh, menggelikan, seperti ada semut-semut listrik merayapi ujung jariku. Sebuah sensasi dingin menjalar dari sana, menembus kulit, terus naik ke lenganku.[TRANSFER DATA SEDANG BERLANGSUNG...][10%... 30%... 70%... 100%
Getaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu."Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini."Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memand







