Dinding beton penjara yang dingin dan lembap sama sekali tidak mampu melunturkan senyum licik dari wajah Hendra. Pria tua itu duduk dengan tenang di ruang kunjungan, meskipun tangannya terbelenggu borgol besi yang kuat. Di hadapannya, Reno Dirgantara berdiri dengan angkuh, dipisahkan oleh sekat kaca tebal yang seolah menjadi pembatas antara dua dunia. Reno datang bukan untuk berbelas kasih, melainkan untuk memastikan bahwa musuhnya itu benar-benar sudah hancur tanpa sisa. Namun, sorot mata Hendra yang tenang justru membuat Reno merasa ada sesuatu yang tidak beres."Kenapa kamu masih bisa tersenyum, Hendra? Kamu sudah kehilangan segalanya. Hartamu disita, namamu hancur, dan kamu akan membusuk di sini sampai mati," suara Reno terdengar dingin melalui interkom, setiap katanya penuh dengan racun kemenangan.Hendra tertawa kecil, suara tawanya terdengar serak dan menggema di ruangan yang sunyi itu. "Reno, Reno... kamu memang cerdas dalam bisnis, tapi kamu sangat buta da
Last Updated : 2026-01-27 Read more