Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden mansion Surabaya terasa jauh lebih hangat dan lembut bagi Karin. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun hidup yang penuh pelarian, ia terbangun bukan karena mimpi buruk atau rasa takut yang mencekik, melainkan karena merasakan hembusan napas yang teratur dari pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Reno masih terlelap di sampingnya, lengan kekarnya melingkar protektif di pinggang Karin, seolah bahkan dalam tidur pun ia tidak rela melepaskan wanita itu barang satu inci saja. Karin menatap wajah Reno yang tenang; garis-garis keras yang biasanya terlihat di dahi pria itu saat bekerja kini tampak melunak, menyisakan ketampanan yang damai. Karin mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut hitam Reno yang sedikit berantakan. Ia tahu, di balik ketenangan pagi ini, ada beban seberat gunung yang sedang Reno pikul di pundaknya. Semalam, ia sempat tidak sengaja mendengar Reno berbicara dengan nada rendah namun penuh penekanan di telepon,
Last Updated : 2026-02-05 Read more