Markas Sementara Phoenix"Kita ke Papua. Sekarang!" perintah Elang sambil mengenakan jaketnya. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala oleh adrenalin penemuan surat Barata."Enggak," jawab Kailan dingin. Dia tidak bergerak dari kursi kerjanya.Elang berbalik, menatap tajam sahabatnya. "Toba kunci saksinya, Kai! Kalau kita bawa dia, kita bisa membuktikan keterlibatan Barata dalam pelarianku dan meruntuhkan narasi Julian!""Gue bilang enggak, ya enggak!" bentak Kailan.Kailan berdiri, menyambar tongkat besinya, lalu menunjuk dada Elang."Ngaca, bangsat! Liat muka lo!"Elang terdiam. Dia melihat pantulan dirinya di layar monitor yang mati. Wajah Elister yang tampan itu kini tirus, kulitnya abu-abu, dan bibirnya membiru."Lo pikir lo Superman?" Kailan mendekat, suaranya melunak namun tegas. "Lo barusan mimisan darah item, El. Tangan lo tremor kayak orang parkinson. Kalau lo naik pesawat ke Papua dengan tekanan udara ka
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-04 Mehr lesen