Kepergian Ibu Suri meninggalkan kekosongan yang mengerikan di Aula Merak Emas, namun ketegangan di dalamnya justru memuncak hingga ke titik didih. Permaisuri Xiao bangkit dari sujudnya dengan gerakan yang kaku, sisa air mata masih mengalir di pipinya, namun sorot matanya telah berubah menjadi belati yang haus darah.Tanpa peringatan, tangan Permaisuri melayang cepat di udara.PLAK!Suara tamparan itu berdentum keras, lebih menyakitkan daripada tamparan Ibu Suri sebelumnya karena kali ini datang dari seseorang yang sempat Li Lian anggap sebagai sekutu. Kepala Li Lian tersentak ke samping, dan meninggalkan sedikit rasa pening. Rasa anyir darah kembali memenuhi mulutnya, dan pipinya yang sudah membiru kini terasa seolah terbakar api.Li Lian terdiam sejenak, membiarkan rambutnya terurai menutupi wajah. Perlahan, ia mengangkat tangan, memegangi pipinya yang berdenyut panas, lalu ia mendongak. Di bibirnya, terukir sebuah senyum tipis yang merayap perlahan—sebuah senyuman yang tenang, na
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-04 อ่านเพิ่มเติม