Chen Xu bersandar pada dinding batu yang beku, membiarkan tubuhnya yang terluka merosot sejauh rantai besi itu mengizinkannya. Matanya yang tajam tetap terpaku pada pintu besi tebal dan berkarat di ujung koridor. Setiap bunyi gesekan kecil, setiap langkah penjaga yang lewat, membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menunggu—menanti tanda-tanda kehadiran Li Lian atau setidaknya sebuah isyarat lanjutan. Namun, waktu seolah membeku. Tak ada tanda-tanda Li lian datang. Pikiran buruk mulai merayap, membayangkan Li Lian yang mungkin sedang dalam bahaya atau menderita di tangan Yan Lu. Rasa tidak berdaya itu jauh lebih menyiksa daripada luka cambukan di tubuhnya.Sementara itu, di permukaan tanah, suasana di paviliun utama tidak kalah mencekamnya. Matahari mulai tergelincir, membiarkan cahaya oranye kemerahan masuk melalui celah jendela, menerangi kepulan asap dupa yang memenuhi ruangan.Li Lian duduk di hadapan Yan Lu dengan ketenangan yang dipaksakan. Di atas meja kayu cendana, sepoci teh
Baca selengkapnya