Cahaya keemasan mulai menyusup di antara celah-celah pepohonan purba Lembah Terlarang, mengusir kabut kelabu yang selama ini menjadi tirai kematian. Sebelum matahari benar-benar menyentuh puncak menara tertinggi di Ibu Kota, sinarnya lebih dulu menyapa barisan pasukan yang berderap keluar dari jantung lembah.Di barisan paling depan, di atas kuda hitam perkasa yang otot-ototnya menegang siap menerjang, Chen Xu duduk dengan tegak. Jubah perangnya berkibar tertiup angin pagi, dan di pinggangnya, pedang Naga Langit serta pedang pusaka keluarga Ling berdampingan, siap mencabut nyawa para pengkhianat. Di sisi kanannya, Li Lian berkuda dengan anggun meski wajahnya masih menyimpan sisa-sisa pucat akibat demam semalam."Lian-er, jika kau merasa lelah, kita bisa berhenti sejenak," bisik Chen Xu, matanya memancarkan kekhawatiran yang dalam.Li Lian menggeleng mantap, jemarinya mencengkeram tali kekang dengan kuat. Ia telah menolak mentah-mentah saat Lin Feng menyiapkan kereta kuda. Baginya, b
Baca selengkapnya