"Kaliyan… tidak bisa menggerakkan kakinya yang terkena panah," jawab Tuan Wiryawan dengan suara parau. "Kaki kanannya mati rasa. Saat ini, dia mengamuk di dalam kamar, menyuruh para pelayan terus-menerus membawakan kompres air panas dan ramuan apa saja supaya kakinya tidak mati rasa. Cucu hamba... pilar hukum keluarga kami... sedang terpuruk.”Isvara tersentak kaget. Kelumpuhan satu kaki? "Izinkan, aku melihatnya sendiri, Tuan," pinta Isvara.Dengan diantar oleh Tuan Wiryawan, Isvara berjalan cepat menuju kamar pribadi Kaliyan di paviliun barat. Begitu pintu kamar dibuka, suara pecahan mangkuk tanah liat yang membentur lantai menyambut mereka, Membuat Ratih yang berjalan di belakang Isvara terlonjak kaget."Bawa ramuan yang lebih panas! Kaki kananku sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa!" suara Kaliyan menggelegar, sarat akan frustrasi yang mendalam.Di dalam kamar, tampak Tabib Jagad, tabib keluarga Ganendra, sedang berusaha keras menenangkan sang Hakim Agung.Kaliyan duduk ber
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-18 Mehr lesen