MasukSemua orang tahu Isvara adalah putri mahkota paling kejam di kerajaan. Sifatnya keras kepala, mudah cemburu, posesif, dan haus akan cinta. Bahkan, Sang Putri rela melukai dirinya sendiri demi tiga pria yang tak pernah benar-benar memilihnya. Tidak ada yang tahu bahwa saat Isvara membuka mata, jiwanya sudah berganti. Ia bukan lagi putri gila cinta yang akan dihukum mati, melainkan seorang dokter jenius dari dunia modern. Perempuan yang sudah terlalu sering melihat kematian dan tak lagi mau berkorban demi hal konyol. Isvara pun memilih pergi, melepaskan tiga pria yang dulu ia kejar dengan nyawa. Anehnya, sejak ia berhenti memohon, para pria justru mulai mengejarnya. Namun, yang lebih mengejutkan, satu-satunya pria yang bermusuhan dengannya, kini justru berdiri paling depan untuk melindunginya. “Jika seluruh dunia ingin menjatuhkanmu, aku akan menjadi pedang yang berdiri di depanmu, Tuan Putri,” kata Sang Jenderal dingin.
Lihat lebih banyakBaru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.
Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.
Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.
Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.
Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini.
Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?
Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung Isvara menangkap aroma menyengat dari cawan di tangannya.
Sebagai dokter bedah yang pernah mempelajari toksikologi kuno, insting medisnya langsung mengambil alih. Ini bukan sekadar minuman biasa, melainkan aroma alkaloid yang mematikan.
Detik itu juga Isvara menyadari sesuatu. Ia tidak hanya berpindah dimensi, tetapi sedang berada di tengah adegan bunuh diri yang konyol.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Putri! Tuan Putri Isvara! Tolong buka pintunya! Jangan membuat kami takut!”
Teriakan dari balik pintu membuat Isvara tersentak.
Isvara mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa seberat batu. Sebelum ia sempat meletakkan cawan itu, pintu kamar didobrak dengan dentuman yang menggetarkan dinding.
BAM!
Engsel pintu nyaris terlepas. Isvara tersentak hebat hingga cairan di dalam cawan tumpah sebagian, membasahi karpet bulu di bawah kakinya.
“S-siapa kau?” tanya Isvara terbata.
Ia melihat sosok seorang pria yang melangkah masuk. Wajahnya sangat tampan, tetapi rautnya sedingin es di puncak gunung.
Pria itu terus mendekat tanpa menjawab pertanyaan Isvara. Bayangannya yang tinggi besar seakan menelan tubuh Isvara yang masih terduduk lemas di tempat tidur.
Ia mengenakan jubah panjang berwarna biru yang disampirkan di bahunya. Sementara di pinggangnya melingkar sabuk kulit dengan ukiran kepala macan, simbol kekuatan yang mengintimidasi.
Dengan sorot mata setajam elang, pria tersebut menatap cawan di tangan Isvara.
"Anda bersandiwara lagi, Putri?" tanya pria itu dengan nada dingin. Suara baritonnya yang berat terasa membekukan seluruh ruangan.
"Setelah gagal mendapatkan perhatian, sekarang Anda menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan?"
Isvara mengerutkan kening, rasa pening di kepalanya semakin menjadi. "Aku... Putri Isvara?"
"Benar. Anda Putri Mahkota Isvara," potong pria itu cepat.
Ia merebut cawan dari tangan Isvara dengan gerakan kasar yang membuat jemari Isvara memerah.
Ketika pria itu mencium aroma cairan yang tersisa, seketika rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol.
"Racun daun ular? Apa menurut Anda dengan meminum racun, ketiga pria 'suci' itu akan segera datang kemari?"
Ucapan pria tersebut membuat Isvara teringat sesuatu. Dalam kisah novel, Sang Putri Mahkota memang memiliki tiga orang tunangan yang akan mendampinginya dalam memimpin kerajaan.
Masing-masing dari mereka mewakili tiga aspek utama dalam kerajaan, yaitu kekuatan spiritual, ilmu pengetahuan dan perdagangan, serta keadilan hukum. Oleh karenanya, mereka disebut sebagai "Tiga Tiang Dharma".
Sayangnya, tiga pria yang seharusnya mendukung dan mencintai Sang Putri justru bersikap sebaliknya. Mereka selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, bahkan lebih memihak pada wanita lain.
Itulah sebabnya Isvara yang asli nekat melakukan berbagai cara, demi menarik perhatian mereka.
Bunyi keras cawan yang diletakkan pria itu memecah lamunan Isvara.
"Berhentilah mengacaukan kedamaian istana, Putri.”
Setelah melontarkan peringatan keras, pria itu hendak berbalik dengan jubah yang berkibar gagah. Namun, saat itulah sesuatu dalam tubuh Isvara meledak.
Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba merambat dari perut bagian bawah ke seluruh pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat.
Isvara tersentak. Sebagai dokter, ia tahu ini bukan sekadar reaksi tubuh biasa.
Tampaknya pemilik tubuh yang asli terlanjur meminum sebagian racun, hingga mengalami gejala mirip orang yang terkena afrodisiak. Jika ini benar, ia harus segera mencari pertolongan medis.
Hanya saja, tangan Isvara terlanjur bergerak sendiri tanpa bisa dicegah. Ia pun bangkit dari pembaringan dan menarik jubah biru pria itu dengan tenaga yang entah datang dari mana.
"Apa yang Anda lakukan—"
Kalimat pria itu terputus saat Isvara tiba-tiba berjinjit dan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Posisi ini membuat mereka harus beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat.
"Tolong aku… tubuhku sangat panas."
Tanpa menunggu jawaban, Isvara menempelkan bibirnya yang pucat ke bibir pria itu, lalu menekannya perlahan. Bagi Isvara, kehangatan dan aroma maskulin pria ini bak oase di tengah gurun api yang membakar tubuhnya.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. Dengan satu sentakan kuat, pria tersebut melepaskan pertautan bibir mereka.
"Jernihkan pikiran Anda. Hamba bukan tempat pelampiasan sesaat," desisnya ketus, napasnya mulai tidak beraturan.
Sebelum Isvara sempat membalas, tubuhnya mendadak terangkat di udara.
Pria itu menggendongnya dalam satu gerakan cepat, lalu menghempaskannya kembali ke pembaringan. Namun, alas tidur yang nyaman bahkan tidak mampu meredam rasa panas yang kian menggila.
Jiwa Isvara kini bergejolak, antara nalar seorang dokter dan insting tubuh yang teracuni.
Di ambang batas kesadarannya, Isvara nekat menarik pria itu hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
“Kau ini pria sejati atau bukan?” tantang Isvara dengan napas memburu. Ia bisa melihat pupil mata pria itu melebar.
“Kalau kau tidak berani menyentuhku, lepaskan saja jubah kebesaranmu. Kau tidak pantas menjadi pemimpin pasukan Mahipura!”
Isvara tersentak setelah kalimat memalukan itu meluncur dari bibirnya.
Bagaimana jika pria ini mengabulkan permintaannya? Mungkinkah dia telah kehilangan akal sehat karena menempati tubuh seorang tokoh antagonis?
Suasana kamar tiba-tiba menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang saling berkejaran.
Dengan sisa kewarasan, Isvara berusaha untuk meralat ucapannya sendiri. Namun, pria itu terlanjur memandangnya dengan tatapan gelap, seperti seekor serigala yang hendak menerkam mangsa.
"Anda menantang orang yang salah, Tuan Putri.”
Mendapat serangan tajam dari ibu tirinya, Isvara tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Ia berdiri tegak. Matanya menatap lurus pada sang ayah, mengabaikan setiap hinaan yang dilontarkan oleh Selir Padmavati."Ayahanda, aku akan menjelaskan semuanya," ucap Isvara dengan suara tenang. "Silakan Ayahanda masuk, sedangkan Ibunda Selir mohon keluar. Aku ingin bicara empat mata dengan Ayahanda.”Selir Padmavati mendelik, wajahnya mengeras karena tersinggung. Ia langsung menoleh pada Baginda Raja untuk mengadu."Baginda, Isvara sungguh tidak sopan kepada hamba. Bukankah hamba adalah ibunya juga di istana ini? Hamba bermaksud baik ingin membantu memulihkan nama baik Putri Mahkota."Isvara bersedekap, seulas senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Ibunda Selir bukanlah ibu kandungku, tidak pernah merawatku juga sejak kecil. Kalau aku tidak mau bercerita kepadamu, bukankah itu hakku?” balas Isvara tajam.“Kita tidak pernah dekat, Ibunda. Lagi pula, aku rasa kehadiran Ibunda Selir
Mendengar laporan Bisma, Rudra memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Gerakannya yang impulsif membuat tubuhnya limbung, tetapi ia segera memegang tepian ranjang dengan tangan kirinya yang sehat."Aku akan menemui Dhyaka Praba," ucap Rudra sambil menatap Bisma dengan sorot mata yang tak terbantahkan. "Kesalahan ini adalah tanggung-jawabku sebagai pimpinan di Ksatriyan. Aku yang lalai dalam menjaga Putri Mahkota.”Ucapan Rudra membuat Isvara langsung berbalik. Dengan cepat, ia memegang lengan pria itu agar tidak melangkah lebih jauh. "Istirahat saja di sini. Kesehatanmu belum pulih sepenuhnya, Rudra."Isvara menatap mata Rudra dengan tajam, suaranya penuh penekanan medis. "Jahitan lukamu belum kering. Jika kau memaksakan diri, tangan kananmu mungkin tidak bisa lagi memegang pedang seumur hidup. Kau mau itu terjadi?"Rudra hendak membantah, tetapi Isvara sudah berpaling kepada Bisma. "Di mana Dhyaka Praba sekarang?""Beliau sedang menunggu di barak tamu, Putri. Izinkan hamba menga
Di dalam kesunyian barak, Isvara bisa mengecap sisa rasa pahit dari obat yang diminum Rudra. Awalnya, tangan Isvara sempat mendorong dada Rudra. Otaknya berteriak bahwa ini adalah kesalahan, bahwa pria di depannya sedang kehilangan kewarasan.Namun, saat bibir Rudra yang panas bergerak di atas bibirnya, pertahanan Isvara runtuh seperti benteng pasir yang diterjang ombak. Terlebih, ia bisa merasakan bagaimana tubuh sang Jenderal gemetar sekaligus mendamba.Perlahan, lidah Rudra menuntut akses lebih dalam, seolah-olah ia mencoba mengambil kembali setengah nyawanya yang hampir hilang. Isvara mulai terbuai dalam ciuman itu, dunianya serasa berputar. Sementara Jenderal yang biasanya dingin itu telah kehilangan kendali di pelukannya.Tanpa sadar, jemari Isvara menarik tubuh Rudra semakin dekat. Kepalanya sedikit mendongak, membalas ciuman Rudra dengan rasa rindu yang ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya.Entah mengapa Isvara merasa jiwanya yang berasal dari dunia lain akhirnya menemuka
Malam semakin larut di barak Ksatriyan. Keheningan hanya dipecah oleh deru napas Rudra yang masih berat. Isvara duduk di tepi ranjang, tangannya tak berhenti memeras kain basah dan mengompres dahi sang Jenderal. Wajah tampan yang biasanya sekeras pahatan batu itu kini tampak lebih lunak.Tak lama kemudian, Tabib Gana melangkah masuk dengan mangkuk keramik yang mengepulkan aroma herbal.Dengan hati-hati, sang Tabib duduk di tepi pembaringan lantas menyuapkan cairan obat sedikit demi sedikit ke bibir Rudra.Rudra sempat terbatuk, tetapi Isvara dengan sigap menyeka tetesan obat di bibir pria itu menggunakan ujung kain bersih.Setelah mangkuk obat kosong, Tabib Gana membungkuk hormat. "Kita hanya perlu menunggu panasnya turun. Jika Anda lelah, biar hamba yang menjaga Jenderal di sini."Isvara menggeleng tegas. "Tidak, Tabib. Aku yang akan merawat Jenderal. Tolong, katakan pada Bisma untuk membawakan dua baju bersih. Satu ukuran kecil untukku, dan satu laki untuk Jenderal.”Tabib Gana sem
Isvara masuk dengan langkah yang sangat tenang. Setiap pijakan kakinya di atas lantai menciptakan suara denting perhiasan kaki yang berirama. Wajahnya dirias dengan sangat cantik. Sementara, gaun Sutra Surya yang ia kenakan berkilau saat tertimpa cahaya matahari dari celah atap balairung. Rambut h
Samudra tampak tertegun sejenak. Isvara yang dulu akan memohon agar ia tetap tinggal, bahkan pura-pura menangis histeris demi menahannya. Namun kini, wanita itu justru mengusirnya dengan keanggunan seorang ratu."Baiklah, Tuan Putri. Sesuai keinginan Anda," ucap Samudra singkat. Ia membungkuk horm
Sebelum menjawab, Isvara memandang ayahnya dengan tatapan yang lebih lembut."Ayahanda, penyakit yang diderita dayang itu bukan penyakit biasa. Aku hanya berusaha menyelamatkan nyawanya.""Menyelamatkan nyawa?" Selir Padmavati menyela dengan nada sinis, hampir menyerupai cibiran. Perempuan paruh ba
"Ratih! Tabib! Masuklah!" seru Isvara dengan sisa tenaga yang ada. Tak berselang lama, Ratih dan kedua tabib masuk dengan wajah penuh tanya, diikuti oleh Rudra di belakangnya.Pandangan mereka langsung terarah pada Isvara, kemudian beralih ke pembaringan. Mereka tertegun melihat sang dayang yang t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan