Mendengar permintaan Isvara yang diucapkan dengan ekspresi rapuh, Rudra menarik napas panjang."Pengejaran dalam kegelapan akan sangat berbahaya," ucap Rudra memberi peringatan. "Lebih baik, hamba antarkan Putri pulang ke istana. Besok, hamba sendiri yang akan mencarinya bersama para prajurit"."Tidak mau!" sahut Isvara cepat, suaranya naik satu nada. "Aku harus mencari Mayang sekarang juga!".Saat perdebatan itu mulai memanas, sebuah kilat petir menyambar di langit. Cahayanya yang putih kebiruan menembus jendela, menerangi wajah mereka berdua.Tak lama berselang, bunyi guntur dan gemuruh butiran air menghantam atap sirap kuil. Menciptakan irama yang bising sekaligus mencekam di tengah kesunyian malam."Di luar hujan, Putri. Kita tidak bisa pergi," ujar Rudra sembari menatap ke jendela.Di saat bersamaan, pintu kamar diketuk pelan. Pendeta yang tadi kembali muncul membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. "Salam, Putri Mahkota, Jenderal Agung. Silakan diminum," ucapnya sambil me
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-09 Mehr lesen